Rudin Barus: Kini Kami dapat Tersenyum Berkat Jeruk Organik
"Sekarang kami para petani organik dapat tersenyum, bahkan
tertawa" ungkap Rudin Barus (37 th) membuka percakapan kami di kebun
jeruk dan kopi miliknya yang luasnya hanya setengah hektar di Kecamatan
Barus Jahe, Kabupaten Karo.
"Bila harga jeruk dapat bertahan diangka Rp.
2.000,- per kilogram maka kami sudah untung banyak, apa lagi kalau
harganya bisa naik, imbuhnya. Waktu kami masih bertani dengan cara
konvensional, walaupun harga jeruk naik tapi kami tetap saja berhutang
karena menanggung biaya produksi yang sangat besar."
Rudin Barus
sehari-harinya lebih dikenal dengan sebutan Pak Rona. Dalam
perhitungannya, dalam satu tahun ia membutuhkan biaya sebesar Rp.
9.700.000,- untuk bertani secara konvensional pada lahannya yang
setengah hektar itu. Namun saat ini, setelah ia beralih pada pola
pertanian organik, ia hanya butuh biaya sebesar Rp. 2.640.000,-
Keuntungan yang ia peroleh berlipat lantaran pengeluaran untuk biaya
produksi dapat diminimalisir sekecil mungkin.
"Dulu kami dianggap orang ’gila’ karena bertani dengan cara yang
tidak lazim. Tapi kami terus berupaya untuk dapat membuktikan bahwa apa
yang kami lakukan merupakan langkah yang baik. Kami percaya bahwa dengan
bertani organik, maka akan ada penurunan pengeluaran dalam usaha tani.
Sehingga kami tidak perlu lagi berhutang kepada tengkulak dan toko-toko
saprodi. Dengan tidak berhutang lagi, kami dapat mempertahankan lahan
yang sekarang kami miliki.
Kalau sudah begitu, maka kami tidak perlu
lagi merambah hutan untuk membuka ladang baru. Bila hutan kami tidak
dirambah lagi, pola pertanian yang kami lakukan dapat terus berlanjut
karena sebagaian besar bahan untuk obat-obatan dan pestisida nabati ada
di dalam hutan. Maka dengan demikian, kami juga bertanggung jawab untuk
pelestarian hutan," imbuhnya.
Kini Pak Rona dan kawan-kawannya
bahkan menganggap diri mereka sebagai orang-orang ’gila’, singkatan dari
Gerakan Insan Lestarikan Alam. Penjelasan pak Rona menjadi masuk akal
karena wilayah desanya merupakan satu dari beberapa desa yang terdapat
di pinggiran Tahura Bukit Barisan, tepatnya di kawasan Sub DAS Lau
Biang. (Sub DAS Lau Biang merupakan salah satu kawasan penting di Hulu
DAS Wampu yang airnya terus mengalir ke hilir di Kabupaten Langkat-red).
Ia
bersama kelompok masyarakat dari desa-desa di sekitar Tahura Bukit
Barisan telah pula melakukan aksi-aksi lapangan untuk pelestarian Tahura
Bukit Barisan melalui wadah Forum Konservasi Tahura Bukit Barisan
(FKT). Selain mengembangkan pola bertani organik, FKT juga terlibat
dalam mengembangkan kegiatan-kegiatan rehabilitasi lahan serta kampanye
konservasi. (Syafrizaldi, ESP Sumut)
Sumber : http://www.organicindonesia.org/05infodata-news.php?id=115
SADRAH SEMBIRING, SANG PENANGKAR BIBIT JERUK BERKUALITAS
Membantu petani di Indonesia khususnya di daerah sentra
penghasil tanaman jeruk, Sadrah penangkar bibit jeruk selalu siap
menyediakan sebanyak 100.000 batang bibit. Meski hanya mendapatkan laba
yang sedikit sekitar Rp 10 juta dalam waktu dua tahun, namun pria
berusia 46 tahun ini terus mengembangkan penangkaran bibitnya di atas
lahan seluas dua hektare dengan varietas bibit jeruk siam madu yang
ditangkarkannya sejak tahun 1997.
Hari mulai siang, panas matahari saat itu kian terasa menyengat kulit.
Namun suasana di penangkaran jeruk milik Sadrah Sembiring yang
dikelilingi pohon jeruk yang menghijau mampu menyegarkan mata dan
mengalahkan teriknya mentari kala itu.
Saat MedanBisnis berkunjung ke Rika Horti penangkaran jeruk milik
Sadrah di Desa Kubucolia, Kecamatan Dolat Rayat, Kabupaten Karo,
terlihat dengan jelas puluhan ribu batang bibit jeruk hasil okulasi yang
tersusun rapi dan yang siap tanam. Tidak hanya itu, juga terlihat
bedengan untuk pembibitan benih jeruk Javanese citrus (JC) yang akan
dijadikan sebagai batang bawah.
Dulu, Sadrah masih menangkarkan dalam jumlah yang sedikit dan hanya
untuk kalangan sendiri. Namun karena permintaan petani yang mulai banyak
membuat Sadrah tak bisa menolak dan mulai memutuskan untuk menangkarkan
bibit jeruk varietas siam madu dalam jumlah yang besar pula.
“Permintaan bibit ini semakin banyak, karena menanam jeruk itu masih
berpotensi dan peluang besar mendapatkan keuntungan,” ujarnya yang terus
menyadari peluang usaha di balik penangkaran jeruk miliknya dan
membentuk kelompok tani penangkar jeruk dengan nama kelompok tani
Kubucolia.
Pada tahun 1999, varietas siam madu akhirnya dilepas sebagai varietas
unggul nasional berdasarkan SK Menteri Pertanian
No.762/KPTS/TP.240/6/99. Sejak saat itu, bibit jeruk keluaran kelompok
tani Kubucolia mendapat sertifikat label biru dari Balai Pengawasan dan
Setifikasi Benih (BPSB) Dinas Pertanian Sumut.
Sejak tahun 1999 hingga kini, Sadrah memperkirakan sudah ratusan ribu
batang bibit jeruk yang keluar dari penangkaran jeruk miliknya. Meski
tak ada data valid dalam pembukuan seyogianya sebuah perusahaan, namun
dari banyaknya hasil yang dikerjakan setiap harinya, Sadrah
memperkirakan hasil bibit jeruk yang keluar sudah mencapai ratusan ribu.
Tak hanya petani di sekitar Tanah Karo yang datang memesan bibit ke
penangkaran Sadrah, tapi juga
dari luar daerah seperti Pakpak Bharat,
Sidikalang, Sipirok, Tapanuli Utara, Humbahas dan daerah lainnya.
Bibit yang ditangkarkan di Rika Horti tidak hanya dibeli oleh petani
antar-kabupaten di Sumut, bahkan sudah mulai lintas propinsi seperti
Propinsi Sumatera Barat dan Sumatera Selatan. Bibit jeruk dengan
menggunakan JC sebagai batang bawah akan lebih bagus kalau ditanam di
daerah dataran tinggi. Tapi jika dipaksakan ditanam di daerah medium dan
rendah, rasa buahnya tidak akan semanis jeruk yang ditanam di dataran
tinggi, bahkan warnanya juga tidak akan sama.
“Saat ini sudah hampir 90 ribu batang bibit sudah diorder. Kita akan
menangkarkan bibit sebanyak-banyaknya sesuai dengan permintaan. Tapi
biasanya pertahun kami menghasilkan 100.000 batang bibit,” katanya.
Untuk membantunya menangkarkan bibit jeruk berkualitas, Sadrah telah
mempekerjakan 5 orang karyawan tetap di penangkaran miliknya. Jadi,
keuntungan dan manfaat dari penangkaran ini tidak hanya dirasakan
keluarganya, tapi bisa menjadi berkat bagi banyak orang terutama bagi
para karyawan yang telah bekerja.
Kini, di penangkaran miliknya atau yang lebih dikenal dengan usaha
dagang Rika Horti, Sadrah tidak hanya menangkarkan jeruk varietas siam
madu, tapi juga menangkarkan varietas Keprok Berastepu yang juga telah
dilepas menjadi varietas unggul nasional pada tahun 2008 lalu
berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 443/KPTS/SR.120/4/2008.
“Untuk jeruk keprok berastepu ini masih baru dan minat petani untuk
bertanam varietas tersebut juga masih tergolong rendah. Meskipun
sebenarnya kualitas rasanya tidak kalah dengan jeruk siam madu. Bahkan
untuk aroma, jeruk berastepu justru lebih wangi dan khas dibandingkan
dengan jeruk siam madu,” ucapnya.
Harga jual bibit jeruk ini, diungkapkan Sadrah, mencapai Rp 20.000
perbatang untuk bibit usia 6 bulan dengan panjang batang 30 cm hingga 40
cm. Bibit dengan usia 3 hingga 6 bulan ini idealnya akan berbuah dalam
kurun waktu sekitar 3 tahun setelah pertanaman dilakukan. Sedangkan
untuk bibit usia 9 hingga 12 bulan dijual seharga Rp 50.000 per batang
dengan panjang 1 meter dan penanaman biasanya akan berbuah dalam kurun
waktu 2 tahun.
“Jika tidak terkendala dengan modal, saya lebih menyarankan agar
petani membeli bibit usia 9 hingga 12 bulan, karena selain proses
pertumbuhannya lebih cepat, petani juga akan beruntung karena akan
memangkas waktu dan biaya perawatan selama satu tahun,” terang Sadrah.
Untuk modal yang harus dikeluarkannya menghasilkan bibit jeruk
berkualitas, diungkapkan Sadrah berkisar Rp 10.000 perbatang. Jadi, jika
harga jual bibit Rp 20.000 perbatang, maka dalam setahun diakuinya ia
bisa memperoleh keuntungan Rp 100 juta. Meski keuntungan sedikit, namun
tidak membuatnya pesimis karena permintaan bibit jeruk terus ada dan
diproyeksikan bertambah.
Petani di Sumut sendiri, tambahnya masih semangat menanam jeruk
khususnya daerah-daerah dataran tinggi karena jeruk asal Sumut masih
mempunyai pasar luas di Indonesia bahkan hingga ke luar negeri.
“Tinggal bagaimana petani mengembangkan tanaman hingga menghasilkan
buah yang berkualitas dan layak jual hingga ke luar negeri. Untuk hama
dan penyakit tanaman juga dapat dikendalikan, asal petani dapat serius
melakukannya dengan berbagai cara tradisional dan hemat anggaran,”
pungkasnya. (yuni naibaho)
Masih bersama pusat review kehidupan, UC hehehe.. kali ini UC mau
review dua jenis jeruk impor asal negeri tiongkok yang membanjiri produk
jeruk dalam negeri. Apalagi saat ini nih, sedang mau Imlek, makin ramai
aja tiap mall dan hypermarket memajang jeruk2 ini.
Ya, jeruk kuning yang disupermarket selalu jadi rebutan ini memang gila-gilaan impornya. Eittss
tapi UC gak akan bahas jeruk impor vs jeruk lokal ya. UC mau bahas
bedanya dua jenis jeruk impor cina ini itupun tak batasin 2 jenis aja
yaitu ponkam dan lokam yang berukuran M (medium). Ada banyak tipe lain
soalnya, misal yang kecil-kecil alias Shantang pun ada berbagai jenis
dan tingkat kemanisan berbeda. Ada yg warna agak oranye, ada dominasi
kuning dengan daun, ada yang agak “besar” tapi masih kategori jeruk
“mini”. Dan seterusnya.
Oke kita mulai dari nama. Ada ponkam/ponkan dan lokam/lokan/lukan.
Dua-duanya asal negeri tirai bambu. Dua-duanya dikemas dengan kotak
merah bergambar naga
dan dua-duanya punya bentuk dan ukuran yang relatif sama. Bedanya?
Kalau Ponkam biasanya jeruk tersebut dikemas satu-satu dengan plastik
bening bertuliskan “ponkam”. Sedangkan yang tipe Lokan/Lukan plastiknya
warna merah pudar dan lebih halus/soft. See the difference kan?
Harga? Hmm. sebenarnya sama.Tapi di beberapa hypermarket, ada harga
awal Ponkam lebih mahal sebelum diskon. Akan tetapi, setelah diskon,
semua harga sama. Saya kurang tau skema hypermarket seperti apa. Tapi
setelah diskon, label menjadi –biasanya Rp 655 per-100 gr alias Rp 6550
per kilo. Beli satu kotak (10 kilogram) lebih murah. Rp 59xxxx alias tak
sampai genap Rp 60.000 per-box.
Di pasar-pasar tradisional, stasiun KA
dan terminal. Harga 1 pcs jeruk di banderol Rp 1000 sudah cukup
menyenangkan pedagang. Bagi saya yg suka beli satu-an, duit Rp 1000 per
jeruk yg dibeli juga masuk akal. Mengingat capeknya penjual dan nilai
kandungan gizi dari 1 jeruk itu, wah seribu rupiah mah murah. Di toko
buah mungkin tak telalu jauh beda. Jika Anda mendapati harga, setelah
diitung2 ya jadinya per-buah lebih dari seribu rupiah. Nah, itu
kemahalan.
Lalu mengapa ada perbedaan nih jeruk? Dari asalnya. Saya lupa nyatet
tapi daerah asal si jeruk sepertinya berbeda. Misalnya di Indonesia, itu
jeruk medan sama jeruk pontianak kali ya. Walaupun ngimpornya sama aja.
Jatuhnya harga sama aja.
Bagaimana memilih jeruk yang baik? ya yang manis lah. #TepokJidat.
Oke oke, lalu milih yang manis? ya diciciplah.
#TepokJidatOrangYangNanya Baiklah.. lihat kondisi jeruk. Pori-pori yang
agak besar dan warna yang lebih oranye jadi pilihan. Jangan lupa agak
tekan untuk melihat kondisi apakah sudah ada bonyok (mungkin tergencet,
sudah lama dan seterusnya). Yang kulitnya tebal juga jadi pilihan. Nah
setelah itu masukkan ke kantong, timbang, bayar. Hehehe..
Ini jeruk Ponkam yg beredar di Indonesia
Ini Jeruk Lukan. Beda pengemasan satuan eruknya
Tapi mau ponkam atau lokam? Kalau menurut pengalaman UC yang sudah
mencoba 1 box besar Ponkam dan 1 box besar Lokam, cara selain mencicip
dan memasukkan satu persatu, jeruk SUPER lebih manis dari ORIGINAL (atau
tidak ditulis). Alamak, apalagi tuh? Ya kalau beli kotak-kotakan, lihat
merknya dikotak, disebut Super atau Original. Kalau cuma ditulisnya
Lukan atau Ponkam saja, itu original.
Selain itu, menurut UC, Lukan/Lokam lebih punya peluang semua isi
kotaknya manis dibanding Ponkam.
Masih ingat dengan ciri-ciri Lukan? Ya,
yang pembungkus butir2 jeruknya dengan plastik lembut merah
pudar/transparan ya, bukan yang plastik kaku bermerk Ponkam. Kalau yang
Ponkam, setelah dibuka, beberapa agak asam, dan memang Ponkam menurut
pengalaman ada beberapa asam dan memang karakter Ponkam seperti itu.
Manis Asem. Bagi yang suka “sensasi” rasa asem, silakan. Sedangkan yang
Lukan, ada juga sih yang masam tapi gak sebanyak si Ponkam.
Sebagai
catatan, ini kalau beli satu dus ya. Artinya memang probabilita yang
manis-asam sama yang manis-thok ada. Dua-duanya saya temukan beberapa
asam kok. Intinya beda-beda tipis sih heheeh.. tapi saya lebih suka yg
Lukan sebab lebih sedikit yg asam (ini kebetulan dari 1 dus yang saya
beli yaaa..).
Oya sebenarnya gak saklek juga dua jenis tersebut perbedaan pengemasan plastiknya. Ini yang saya ketahui aja ya di Indonesia. Misalnya ada juga yang kemasan plastiknya agak lain dan warna
jeruknya lebih ke kekuning-kuningan dan itu diklaim lukan juga. Seperti
contoh dibawah ini :
Ini ekspor juga, tapi bukan ke Indonesia
Oke,
itu saja review UC. Silakan berbelanja jeruk mandarin! Maaf kalau ada
yang salah, review ini murni dari pengalaman penulis hehe..
Sumber : http://www.unggulcenter.org/2012/01/15/perbedaan-jeruk-ponkam-dan-jeruk-lukan-lokam/
YLKI: Buah Impor Masuk ke Indonesia Harus Aman Untuk Dikonsumsi
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sumatera Utara berharap
buah impor yang masuk dan beredar di Indonesia dapat dipastikan
benar-benar aman untuk dikonsumsi dan tidak akan menimbulkan masalah
dikemudian hari.
“Buah impor yang diperjualbelikan di negeri ini telah dianggap
terjamin kualitas dan kesehatannya untuk dikonsumsi masyarakat
Indonesia,” kata Ketua YLKI Sumut Abubakar Siddik di Medan, Rabu, saat
diminta komentarnya mengenai beredarnya buah-buahan dari luar negeri
tersebut.
Dengan terjaminnya mutu dan kesehatan buah impor yang berasal dari
negara asing itu, menurut dia, warga Indonesia yang mengkonsumsi makanan tersebut dapat terhindar dari segala penyakit.
“Kita tidak ingin dengan banjirnya berbagai jenis buah impor dari
luar negeri ke tanah air ini, dapat menimbulkan masalah dan gangguan
kesehatan bagi masyarakat yang memakannyal. Ini harus dapat kita cegah
dan antisifasi, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” kata
Abubakar.
Dia mengatakan, jangan karena gemarnya warga terhadap buah-buahan
yang datang dari China itu, dapat pula menimbulkan masalah terhadap
kesehatan pengkonsumsinya.
Untuk dapat menghindari terjadinya gangguan kesehatan terhadap
manusia, pihak Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Cabang
Medan segera turun tangan ke lapangan meneliti mengenai buah-buahan dari
luar negeri tersebut.
Buah-buahan yang diperjual belikan di pusat pasar, toko buah, dan
Plaza itu harus diteli secara jelas, mana tahu ada dicampur dengan bahan
pengawet berupa kimiawi yang dapat merusak kesehatan manusia.
“Petugas BBPOM Cabang Medan harus segera turun tangan ke lapangan dan
bekerja sama dengan Dinas Kesehatan, Dinas Perdagangan dan Dinas Pertanian, karena institusi tersebut sangat berkompoten dengan buah yang masuk dari luar negeri itu,” ucap Abubakar.
Ia meminta BPPOM setempat agar jangan baru turun ke lapangan setelah adanya temuan mengenai buah-buahan yang bermasalah.
Kalau boleh, sebelum terjadi masalah, petugas BBPOM sudah mendeteksinya sehingga masyarakat tidak ada yang dirugikan.
Ketika ditanya jenis buah-buahan dari China yang masuk ke Indonesia,
Abubakar mengatakan, buah jeruk, anggur, apel, pir, sankist, strowberry,
dan buah-buah lainya,
Kehadiran buah-buah impor di Indonesia, menurut dia, jelas berdampak dan
merugikan kepada petani buah, karena usaha mereka akan terganggu dan
begitu juga pemasarannya.
Namun, katanya, pihak Pemerintah juga tidak bisa melarang atau
mencegah masuknya buah impor tersebut, karena ini menyangkut kepentingan
perdagangan internasional.
“Pemerintah Indonesia hanya bisa membatasi masuknya buah impor
tersebut. Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian merupakan
institusi pemerintah yang bertanggung jawab mengenai masuknya buah impor
tersebut,” kata Abubakar.
Sumber : http://www.citizenjurnalism.com/world-news/indonesia/ylki-buah-impor-masuk-ke-indonesia-harus-aman-untuk-dikonsumsi/
Jeruk
madu maupun limau kacang punya potensi jadi buah andalan dari Kabupaten
Solok Selatan. Buktinya, dua jenis jeruk itu berhasil dibudidayakan
oleh petani. Tapi sayang, mereka terbentur masalah pemasaran.
Penjualan
jeruk masih dalam skala lokal. Tidak sedikit juga petani yang menggelar
stand di pinggir jalan raya. Padahal, buah yang banyak mengandung
vitamin C itu cukup layak menjadi produk ekspor.
Antonius, panggilan Ucok, 32, salah
seorang petani sukses menghasilkan jeruk dengan kualitas bagus. Saat
ini, satu persatu jeruk miliknya sudah mulai siap dipetik. Bapak satu
anak itu bersama istrinya, Warnijah, 32, terpaksa membangun pondok di
pinggir jalan raya kawasan Pinangawan, Pauhduo. Tepat di depan kebun
jeruk mereka. Pondok itulah tempat penjualan jeruk segar, nan manis
menggoda itu.
Pantauan Padang Ekspres, Minggu
(22/5), pengemudi maupun pengendara yang kebetulan lewat di sana, nyaris
tidak luput berhenti, singgah di pondok itu. Membeli jeruk. Komentar
mereka, “Manisnya segar, airnya pun banyak. Ndak rugi kalau awak bali
limau di siko,” ujar salah seorang sopir truk yang memborong 5 kg jeruk
tersebut.
Kapasitas jeruk yang dijualnya di
pondok, berkisar 50-100 kg per hari. Sedangkan bila telah panen raya,
diperkirakan 150 batang jeruk madu itu bakal menghasilkan sebanyak 1
ton. Hingga menjelang panen raya perdana, belum tergambar sedikitpun
oleh Ucok, akan dijual kemana jeruknya nanti. Jenis jeruk yang bakal
panen raya itu, yaitu jeruk madu dan limau kacang.
“Menjualnya ya di sini saja. Daripada susah-susah di bawa ke pasar harganya pun sama,” imbuh lelaki asli Brastagi itu.
Tawaran
memang pernah datang dari seorang pedagang pengumpul yang tak
dikenalnya. Orang itu, kata Ucok, berniat ingin memborong atau menjadi
pelanggan tetap. Tapi, harga yang ditawarkan jauh lebih rendah. Rp9 ribu
per kg. Sedangkan harga sehari-hari yang dijual pondoknya Rp13 ribu per
kg.
“Daripada harga rendah begitu,
mending di sini saja bertahan. Tapi kalau ada yang mau membeli dengan
harga yang sama dengan penjualan di sini, ya saya bersedia,” ujarnya.
Saat ditanya soal peran pemkab
setempat terhadap petani jeruk, katanya, sejauh ini baru sebatas
pembinaan dan pelatihan. Belum ada yang mengarah pada pemasaran. Masalah
pemasaran dan penjualan jeruk, para petani masih berjalan
sendiri-sendiri. Mengandalkan kemampuan berdagang sendiri.
“Sampai sekarang, masalah
pemasarannya kita lakukan sendiri. Mudah-mudahan ada solusi, bagaimana
supaya jeruk laku dijual dengan harga menguntungkan petani,” tutupnya. (*)
Sumber : http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=4587
Jeruk Ponkam
Asal Negara : Cina
1 dus (±10 Kg)
Ukuran: Ss = 96 pcs, S = 84 pcs, M = 68 pcs, L = 52 pcs
Perkiraan musim: Bulan November s.d Februari
Bentuknya bulat sedang kira-kira 6 sampai 9 cm, berbiji, rasanya manis.
Hampir sama dengan Jeruk Santang Jeruk khas Imlek atau tahun baru Cina
ini juga kaya akan vitamin C dan serat yang mampu membantu meningkatkan
daya tahan tubuh sekaligus menyehatkan pencernaan.
Jeruk Santang Polos
Jeruk Santang Polos
Asal Negara : Cina
1 keranjang (± 8 Kg)
Perkiraan ketersediaan : Bulan November s.d Februari
Bentuknya bulat kecil kira-kira 4 sampai 6 cm, berbiji (jeruk santang
ini biasanya dikemas dengan keranjang), rasanya manis. Jeruk khas Imlek
atau tahun baru Cina ini juga kaya akan vitamin C dan serat yang mampu
membantu meningkatkan daya tahan tubuh sekaligus menyehatkan pencernaan.
Jeruk Kino
Jeruk Kino
Asal Negara : Pakistan
1 dus (±10 Kg)
Isi per karton: 52/60/72/80
Jeruk Baby Sugar
Asal Negara : Cina 1 Karton (± 10 Kg) Perkiraan ketersediaan : Bulan November s.d Desember Bentuknya bulat
sedang tanpa biji rasanya manis. Jeruk khas Imlek atau tahun baru Cina
ini juga kaya akan vitamin C dan serat yang mampu membantu meningkatkan
daya tahan tubuh sekaligus menyehatkan pencernaan.
Jeruk Murcott
Jeruk Murcott
Asal Negara : Argentina
1 dus (±10 Kg)
Isi per karton: 52/60/72/80
Jeruk Clemenvile
Jeruk Clemenvile
Asal Negara :Argentina, Uruguay
1 karton ±10 Kg
Jeruk, buah yang sangat populer, mudah diperoleh, dan relatif murah itu,
ternyata mengandung banyak zat gizi yang baik bagi kesehatan dan
pencegahan penyakit. Jeruk
telah lama dikenal sebagai buah dengan rasa segar dan bergizi baik.
Selain sangat kaya vitamin dan mineral, ia juga mengandung serat makanan
yang esensial (sangat diperlukan tetapi tidak dapat diproduksi dalam
tubuh) bagi pertumbuhan dan berkembangan tubuh normal. Senyawa non-gizi
yang dikandungnya ternyata juga membantu menurunkan risiko terkena
beberapa jenis penyakit kronis, seperti kardiovaskuler, kanker, dan
katarak.
Sayangnya, selama ini jeruk telanjur terkenal hanya sebagai sumber
vitamin C. Padahal, buah bulat ini juga mengandung sederetan zat gizi
esensial lainnya, yang meliputi karbohidrat (zat gula dan serat
makanan), potasium, folat, kalsium, thiamin, niacin, vitamin B6, fosfor,
magnesium, tembaga, riboflavin, asam pantotenat, dan senyawa fitokimia. Sumber: digikidblogs.blogspot.com
Jeruk Santang Daun
Jeruk Santang Daun
Asal Negara : Cina
1 keranjang (± 8 Kg)
Perkiraan ketersediaan : Bulan November s.d Februari
Jeruk khas Imlek atau tahun baru Cina ini juga kaya akan vitamin C dan
serat yang mampu membantu meningkatkan daya tahan tubuh sekaligus
menyehatkan pencernaan.
Jeruk Sunkist
Jeruk Sunkist Midknight
Asal Negara : Afrika Selatan
1 dus (±15 Kg)
Isi per karton: 52/60/72/80
Sumber : http://segarabadi.blogspot.com/search/label/Jeruk
Asal
Garut, Jawa Barat, Rasa manis sedikit asam, Ukuran buah sedang, Warna
daging buah oranye, Warna kulit buah hijau kekuningan, Tumbuh di dataran
sedang (400-700 m d.p.l)
Keprok Batu 55
Asal
Kota Batu, Jatim Rasa manis sedikit asam, ukuran buah sedang, warna
daging buah oranye, warna kulit buah kuning-oranye, tumbuh di dataran
tinggi (800 – 1200 mdpl)
Keprok SoE
Asal
NTT, Rasa manis sedikit asam, Ukuran buah sedang, Warna daging buah
oranye, Warna kulit buah kuning-oranye kemerahan, Tumbuh di dataran
tinggi (900-1200 mdpl)