...Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H.... Mohon maaf lahir dan batin...

Kamis, 31 Mei 2012

Jeruk Organik sangat menguntungkan

Rudin Barus: Kini Kami dapat Tersenyum Berkat Jeruk Organik


"Sekarang kami para petani organik dapat tersenyum, bahkan tertawa" ungkap Rudin Barus (37 th) membuka percakapan kami di kebun jeruk dan kopi miliknya yang luasnya hanya setengah hektar di Kecamatan Barus Jahe, Kabupaten Karo.

"Bila harga jeruk dapat bertahan diangka Rp. 2.000,- per kilogram maka kami sudah untung banyak, apa lagi kalau harganya bisa naik, imbuhnya. Waktu kami masih bertani dengan cara  konvensional, walaupun harga jeruk naik tapi kami tetap saja berhutang karena menanggung biaya produksi yang sangat besar."

Rudin Barus sehari-harinya lebih dikenal dengan sebutan Pak Rona. Dalam perhitungannya, dalam satu tahun ia membutuhkan biaya sebesar Rp. 9.700.000,- untuk bertani secara konvensional pada lahannya yang setengah hektar itu. Namun saat ini, setelah ia beralih pada pola pertanian organik, ia hanya butuh biaya sebesar Rp. 2.640.000,- Keuntungan yang ia peroleh berlipat lantaran pengeluaran untuk biaya produksi dapat diminimalisir sekecil mungkin.

"Dulu kami dianggap orang ’gila’ karena bertani dengan cara yang tidak lazim. Tapi kami terus berupaya untuk dapat membuktikan bahwa apa yang kami lakukan merupakan langkah yang baik. Kami percaya bahwa dengan bertani organik, maka akan ada penurunan pengeluaran dalam usaha tani. Sehingga kami tidak perlu lagi berhutang kepada tengkulak dan toko-toko saprodi. Dengan tidak berhutang lagi, kami dapat mempertahankan lahan yang sekarang kami miliki.

Kalau sudah begitu, maka kami tidak perlu lagi merambah hutan untuk membuka ladang baru. Bila hutan kami tidak dirambah lagi, pola pertanian yang kami lakukan dapat terus berlanjut karena sebagaian besar bahan untuk obat-obatan dan pestisida nabati ada di dalam hutan. Maka dengan demikian, kami juga bertanggung jawab untuk pelestarian hutan," imbuhnya.

Kini Pak Rona dan kawan-kawannya bahkan menganggap diri mereka sebagai orang-orang ’gila’, singkatan dari Gerakan Insan Lestarikan Alam. Penjelasan pak Rona menjadi masuk akal karena wilayah desanya merupakan satu dari beberapa desa yang terdapat di pinggiran Tahura Bukit Barisan, tepatnya di kawasan Sub DAS Lau Biang. (Sub DAS Lau Biang merupakan salah satu kawasan penting di Hulu DAS Wampu yang airnya terus mengalir ke hilir di Kabupaten Langkat-red).

Ia bersama kelompok masyarakat dari desa-desa di sekitar Tahura Bukit Barisan telah pula melakukan aksi-aksi lapangan untuk pelestarian Tahura Bukit Barisan melalui wadah Forum Konservasi  Tahura Bukit Barisan (FKT). Selain mengembangkan pola bertani organik, FKT juga terlibat dalam mengembangkan kegiatan-kegiatan rehabilitasi lahan serta kampanye konservasi.
(Syafrizaldi, ESP Sumut)




Sumber : http://www.organicindonesia.org/05infodata-news.php?id=115

SADRAH SEMBIRING, SANG PENANGKAR BIBIT JERUK BERKUALITAS

SADRAH SEMBIRING, SANG PENANGKAR BIBIT JERUK BERKUALITAS

Membantu petani  di Indonesia khususnya di daerah sentra penghasil tanaman jeruk, Sadrah penangkar bibit jeruk selalu siap menyediakan sebanyak 100.000 batang bibit. Meski hanya mendapatkan laba yang sedikit sekitar Rp 10 juta dalam waktu dua tahun, namun pria berusia 46 tahun ini terus mengembangkan penangkaran bibitnya di atas lahan seluas dua hektare dengan varietas bibit jeruk siam madu yang ditangkarkannya sejak tahun 1997.

Hari mulai siang, panas matahari saat itu kian terasa menyengat kulit. Namun suasana di penangkaran jeruk milik Sadrah Sembiring yang dikelilingi pohon jeruk yang menghijau mampu menyegarkan mata dan mengalahkan teriknya mentari kala itu.




Saat MedanBisnis berkunjung ke Rika Horti penangkaran jeruk milik Sadrah di Desa Kubucolia, Kecamatan Dolat Rayat, Kabupaten Karo, terlihat dengan jelas puluhan ribu batang bibit jeruk hasil okulasi yang tersusun rapi dan yang siap tanam. Tidak hanya itu, juga terlihat bedengan untuk pembibitan benih jeruk Javanese citrus (JC) yang akan dijadikan sebagai batang bawah.

Dulu, Sadrah masih menangkarkan dalam jumlah yang sedikit dan hanya untuk kalangan sendiri. Namun karena permintaan petani yang mulai banyak membuat Sadrah tak bisa menolak dan mulai memutuskan untuk menangkarkan bibit jeruk varietas siam madu dalam jumlah yang besar pula.

“Permintaan bibit ini semakin banyak, karena menanam jeruk itu masih berpotensi dan peluang besar mendapatkan keuntungan,” ujarnya yang terus menyadari peluang usaha di balik penangkaran jeruk miliknya dan membentuk kelompok tani penangkar jeruk dengan nama kelompok tani Kubucolia.

Pada tahun 1999, varietas siam madu akhirnya dilepas sebagai varietas unggul nasional berdasarkan SK Menteri Pertanian No.762/KPTS/TP.240/6/99. Sejak saat itu, bibit jeruk keluaran kelompok tani Kubucolia mendapat sertifikat label biru dari Balai Pengawasan dan Setifikasi Benih (BPSB) Dinas Pertanian Sumut.

Sejak tahun 1999 hingga kini, Sadrah memperkirakan sudah ratusan ribu batang bibit jeruk yang keluar dari penangkaran jeruk miliknya. Meski tak ada data valid dalam pembukuan seyogianya sebuah perusahaan, namun dari banyaknya hasil yang dikerjakan setiap harinya, Sadrah memperkirakan hasil bibit jeruk yang keluar sudah mencapai ratusan ribu.
Tak hanya petani di sekitar Tanah Karo yang datang memesan bibit ke penangkaran Sadrah, tapi juga

dari luar daerah seperti Pakpak Bharat, Sidikalang, Sipirok, Tapanuli Utara, Humbahas dan daerah lainnya.

Bibit yang ditangkarkan di Rika Horti tidak hanya dibeli oleh petani antar-kabupaten di Sumut, bahkan sudah mulai lintas propinsi seperti Propinsi Sumatera Barat dan Sumatera Selatan. Bibit jeruk dengan menggunakan JC sebagai batang bawah akan lebih bagus kalau ditanam di daerah dataran tinggi. Tapi jika dipaksakan ditanam di daerah medium dan rendah, rasa buahnya tidak akan semanis jeruk yang ditanam di dataran tinggi, bahkan warnanya juga tidak akan sama.
“Saat ini sudah hampir 90 ribu batang bibit sudah diorder. Kita akan menangkarkan bibit sebanyak-banyaknya sesuai dengan permintaan. Tapi biasanya pertahun kami menghasilkan 100.000 batang bibit,” katanya.

Untuk membantunya menangkarkan bibit jeruk berkualitas, Sadrah telah mempekerjakan 5 orang karyawan tetap di penangkaran miliknya. Jadi, keuntungan dan manfaat dari penangkaran ini tidak hanya dirasakan keluarganya, tapi bisa menjadi berkat bagi banyak orang terutama bagi para karyawan yang telah bekerja.

Kini, di penangkaran miliknya atau yang lebih dikenal dengan usaha dagang Rika Horti, Sadrah tidak hanya menangkarkan jeruk varietas siam madu, tapi juga menangkarkan varietas Keprok Berastepu yang juga telah dilepas menjadi varietas unggul nasional pada tahun 2008 lalu berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 443/KPTS/SR.120/4/2008.

“Untuk jeruk keprok berastepu ini masih baru dan minat petani untuk bertanam varietas tersebut juga masih tergolong rendah. Meskipun sebenarnya kualitas rasanya tidak kalah dengan jeruk siam madu. Bahkan untuk aroma, jeruk berastepu justru lebih wangi dan khas dibandingkan dengan jeruk siam madu,” ucapnya.

Harga jual bibit jeruk ini, diungkapkan Sadrah, mencapai Rp 20.000 perbatang untuk bibit usia 6 bulan dengan panjang batang 30 cm hingga 40 cm. Bibit dengan usia 3 hingga 6 bulan ini idealnya akan berbuah dalam kurun waktu sekitar 3 tahun setelah pertanaman dilakukan. Sedangkan untuk bibit usia 9 hingga 12 bulan dijual seharga Rp 50.000 per batang dengan panjang 1 meter dan penanaman biasanya akan berbuah dalam kurun waktu 2 tahun.

“Jika tidak terkendala dengan modal, saya lebih menyarankan agar petani membeli bibit usia 9 hingga 12 bulan, karena selain proses pertumbuhannya lebih cepat, petani juga akan beruntung karena akan memangkas waktu dan biaya perawatan selama satu tahun,” terang Sadrah.

Untuk modal yang harus dikeluarkannya menghasilkan bibit jeruk berkualitas, diungkapkan Sadrah berkisar Rp 10.000 perbatang. Jadi, jika harga jual bibit Rp 20.000 perbatang, maka dalam setahun diakuinya ia bisa memperoleh keuntungan Rp 100 juta. Meski keuntungan sedikit, namun tidak membuatnya pesimis karena permintaan bibit jeruk terus ada dan diproyeksikan bertambah.
Petani di Sumut sendiri, tambahnya masih semangat menanam jeruk khususnya daerah-daerah dataran tinggi karena jeruk asal Sumut masih mempunyai pasar luas di Indonesia bahkan hingga ke luar negeri.

“Tinggal bagaimana petani mengembangkan tanaman hingga menghasilkan buah yang berkualitas dan layak jual hingga ke luar negeri. Untuk hama dan penyakit tanaman juga dapat dikendalikan, asal petani dapat serius melakukannya dengan berbagai cara tradisional dan hemat anggaran,” pungkasnya. (yuni naibaho)

sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

Sumber :  http://www.sinabungjaya.com/?p=43135

Perbedaan Jeruk Ponkam dan Jeruk Lukan/Lokam

Perbedaan Jeruk Ponkam dan Jeruk Lukan/Lokam

Haiyaaa!!  Gong Xi Fat Choi!!!

Masih bersama pusat review kehidupan, UC hehehe.. kali ini UC mau review dua jenis jeruk impor asal negeri tiongkok yang membanjiri produk jeruk dalam negeri. Apalagi saat ini nih, sedang mau Imlek, makin ramai aja tiap mall dan hypermarket memajang jeruk2 ini.

Ya, jeruk kuning yang disupermarket selalu jadi rebutan ini memang gila-gilaan impornya. Eittss tapi UC gak akan bahas jeruk impor vs jeruk lokal ya. UC mau bahas bedanya dua jenis jeruk impor cina ini itupun tak batasin 2 jenis aja yaitu ponkam dan lokam yang berukuran M (medium). Ada banyak tipe lain soalnya, misal yang kecil-kecil alias Shantang pun ada berbagai jenis dan tingkat kemanisan berbeda. Ada yg warna agak oranye, ada dominasi kuning dengan daun, ada yang agak “besar” tapi masih kategori jeruk “mini”. Dan seterusnya.

Oke kita mulai dari nama. Ada ponkam/ponkan dan lokam/lokan/lukan. Dua-duanya asal negeri tirai bambu. Dua-duanya dikemas dengan kotak merah bergambar naga :)   dan dua-duanya punya bentuk dan ukuran yang relatif sama. Bedanya? Kalau Ponkam biasanya jeruk tersebut dikemas satu-satu dengan plastik bening bertuliskan “ponkam”. Sedangkan yang tipe Lokan/Lukan plastiknya warna merah pudar dan lebih halus/soft.  See the difference kan?

Harga? Hmm. sebenarnya sama.Tapi di beberapa hypermarket, ada harga awal Ponkam lebih mahal sebelum diskon. Akan tetapi, setelah diskon, semua harga sama. Saya kurang tau skema hypermarket seperti apa. Tapi setelah diskon, label menjadi –biasanya Rp 655 per-100 gr alias Rp 6550 per kilo. Beli satu kotak (10 kilogram) lebih murah. Rp 59xxxx alias tak sampai genap Rp 60.000 per-box. 

Di pasar-pasar tradisional, stasiun KA dan terminal. Harga 1 pcs jeruk di banderol Rp 1000 sudah cukup menyenangkan pedagang. Bagi saya yg suka beli satu-an, duit Rp 1000 per jeruk yg dibeli juga masuk akal. Mengingat capeknya penjual dan nilai kandungan gizi dari 1 jeruk itu, wah seribu rupiah mah murah. Di toko buah mungkin tak telalu jauh beda. Jika Anda mendapati harga, setelah diitung2 ya jadinya per-buah lebih dari seribu rupiah. Nah, itu kemahalan.

Lalu mengapa ada perbedaan nih jeruk? Dari asalnya. Saya lupa nyatet tapi daerah asal si jeruk sepertinya berbeda. Misalnya di Indonesia, itu jeruk medan sama jeruk pontianak kali ya. Walaupun ngimpornya sama aja. Jatuhnya harga sama aja.

Bagaimana memilih jeruk yang baik? ya yang manis lah. #TepokJidat. Oke oke, lalu milih yang manis? ya diciciplah. #TepokJidatOrangYangNanya  Baiklah.. lihat kondisi jeruk. Pori-pori yang agak besar dan warna yang lebih oranye jadi pilihan. Jangan lupa agak tekan untuk melihat kondisi apakah sudah ada bonyok (mungkin tergencet, sudah lama dan seterusnya). Yang kulitnya tebal juga jadi pilihan. Nah setelah itu masukkan ke kantong, timbang, bayar. Hehehe..



Ini jeruk Ponkam yg beredar di Indonesia



Ini Jeruk Lukan. Beda pengemasan satuan  eruknya
Tapi mau ponkam atau lokam? Kalau menurut pengalaman UC yang sudah mencoba 1 box besar Ponkam dan 1 box besar Lokam, cara selain mencicip dan memasukkan satu persatu, jeruk SUPER lebih manis dari ORIGINAL (atau tidak ditulis). Alamak, apalagi tuh? Ya kalau beli kotak-kotakan, lihat merknya dikotak, disebut Super atau Original. Kalau cuma ditulisnya Lukan atau Ponkam saja, itu original.

Selain itu, menurut UC, Lukan/Lokam lebih punya peluang semua isi kotaknya manis dibanding Ponkam.

Masih ingat dengan ciri-ciri Lukan? Ya, yang pembungkus butir2 jeruknya dengan plastik lembut merah pudar/transparan ya, bukan yang plastik kaku bermerk Ponkam.  Kalau yang Ponkam, setelah dibuka, beberapa agak asam, dan memang Ponkam menurut pengalaman ada beberapa asam dan memang karakter Ponkam seperti itu. Manis Asem. Bagi yang suka “sensasi” rasa asem, silakan. Sedangkan yang Lukan, ada juga sih yang masam tapi gak sebanyak si Ponkam.

Sebagai catatan, ini kalau beli satu dus ya. Artinya memang probabilita yang manis-asam sama yang manis-thok ada. Dua-duanya saya temukan beberapa asam kok. Intinya beda-beda tipis sih heheeh.. tapi saya lebih suka yg Lukan sebab lebih sedikit yg asam (ini kebetulan dari 1 dus yang saya beli yaaa..).

Oya sebenarnya gak saklek juga dua jenis tersebut perbedaan pengemasan plastiknya. Ini yang saya ketahui aja ya di Indonesia.   Misalnya ada juga yang kemasan plastiknya agak lain dan warna jeruknya lebih ke kekuning-kuningan dan itu diklaim lukan juga.  Seperti contoh dibawah ini :


Ini ekspor juga, tapi bukan ke Indonesia :)

Oke, itu saja review UC.  Silakan berbelanja jeruk mandarin! Maaf kalau ada yang salah, review ini murni dari pengalaman penulis hehe..

Sumber : http://www.unggulcenter.org/2012/01/15/perbedaan-jeruk-ponkam-dan-jeruk-lukan-lokam/


YLKI: Buah Impor Masuk ke Indonesia Harus Aman Untuk Dikonsumsi

YLKI: Buah Impor Masuk ke Indonesia Harus Aman Untuk Dikonsumsi




Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sumatera Utara berharap buah impor yang masuk dan beredar di Indonesia dapat dipastikan benar-benar aman untuk dikonsumsi dan tidak akan menimbulkan masalah dikemudian hari.

“Buah impor yang diperjualbelikan di negeri ini telah dianggap terjamin kualitas dan kesehatannya untuk dikonsumsi masyarakat Indonesia,” kata Ketua YLKI Sumut Abubakar Siddik di Medan, Rabu, saat diminta komentarnya mengenai beredarnya buah-buahan dari luar negeri tersebut.
Dengan terjaminnya mutu dan kesehatan buah impor yang berasal dari negara asing itu, menurut dia, warga Indonesia yang mengkonsumsi makanan tersebut dapat terhindar dari segala penyakit.

“Kita tidak ingin dengan banjirnya berbagai jenis buah impor dari luar negeri ke tanah air ini, dapat menimbulkan masalah dan gangguan kesehatan bagi masyarakat yang memakannyal. Ini harus dapat kita cegah dan antisifasi, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Abubakar.
Dia mengatakan, jangan karena gemarnya warga terhadap buah-buahan yang datang dari China itu, dapat pula menimbulkan masalah terhadap kesehatan pengkonsumsinya.

Untuk dapat menghindari terjadinya gangguan kesehatan terhadap manusia, pihak Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Cabang Medan segera turun tangan ke lapangan meneliti mengenai buah-buahan dari luar negeri tersebut.
Buah-buahan yang diperjual belikan di pusat pasar, toko buah, dan Plaza itu harus diteli secara jelas, mana tahu ada dicampur dengan bahan pengawet berupa kimiawi yang dapat merusak kesehatan manusia.

“Petugas BBPOM Cabang Medan harus segera turun tangan ke lapangan dan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan, Dinas Perdagangan dan Dinas Pertanian, karena institusi tersebut sangat berkompoten dengan buah yang masuk dari luar negeri itu,” ucap Abubakar.

Ia meminta BPPOM setempat agar jangan baru turun ke lapangan setelah adanya temuan mengenai buah-buahan yang bermasalah.
Kalau boleh, sebelum terjadi masalah, petugas BBPOM sudah mendeteksinya sehingga masyarakat tidak ada yang dirugikan.
Ketika ditanya jenis buah-buahan dari China yang masuk ke Indonesia, Abubakar mengatakan, buah jeruk, anggur, apel, pir, sankist, strowberry, dan buah-buah lainya,

Kehadiran buah-buah impor di Indonesia, menurut dia, jelas berdampak dan merugikan kepada petani buah, karena usaha mereka akan terganggu dan begitu juga pemasarannya.
Namun, katanya, pihak Pemerintah juga tidak bisa melarang atau mencegah masuknya buah impor tersebut, karena ini menyangkut kepentingan perdagangan internasional.

“Pemerintah Indonesia hanya bisa membatasi masuknya buah impor tersebut. Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian merupakan institusi pemerintah yang bertanggung jawab mengenai masuknya buah impor tersebut,” kata Abubakar.

Sumber : http://www.citizenjurnalism.com/world-news/indonesia/ylki-buah-impor-masuk-ke-indonesia-harus-aman-untuk-dikonsumsi/

Petani Terkendala Pemasaran Limau Kacang Solok Selatan

Petani Terkendala Pemasaran

Limau Kacang Solok Selatan


Kualitas ekspor: Penjualan jeruk madu Solsel hingga kini, masih dalam skala loka
—


Jeruk madu maupun limau kacang punya potensi jadi buah andalan dari Kabupaten Solok Selatan. Buktinya, dua jenis jeruk itu berhasil dibudidayakan oleh petani. Tapi sayang, mereka terbentur masalah pemasaran.
 
Penjualan jeruk masih dalam skala lokal. Tidak sedikit juga petani yang menggelar stand di pinggir jalan raya. Padahal, buah yang banyak mengandung vitamin C itu cukup layak menjadi produk ekspor.

Antonius, panggilan Ucok, 32, salah seorang petani sukses menghasilkan jeruk dengan kualitas bagus. Saat ini, satu persatu jeruk miliknya sudah mulai siap dipetik. Bapak satu anak itu bersama istrinya, Warnijah, 32, terpaksa membangun pondok di pinggir jalan raya kawasan Pinangawan, Pauhduo. Tepat di depan kebun jeruk mereka. Pondok itulah tempat penjualan jeruk segar, nan manis menggoda itu.

Pantauan Padang Ekspres, Minggu (22/5), pengemudi maupun pengendara yang kebetulan lewat di sana, nyaris tidak luput berhenti, singgah di pondok itu. Membeli jeruk. Komentar mereka, “Manisnya segar, airnya pun banyak.  Ndak rugi kalau awak bali limau di siko,” ujar salah seorang sopir truk yang memborong 5 kg jeruk tersebut.

Kapasitas jeruk yang dijualnya di pondok, berkisar 50-100 kg per hari. Sedangkan bila telah panen raya, diperkirakan 150 batang jeruk madu itu bakal menghasilkan sebanyak 1 ton. Hingga menjelang panen raya perdana, belum tergambar sedikitpun oleh Ucok, akan dijual kemana jeruknya nanti. Jenis jeruk yang bakal panen raya itu, yaitu jeruk madu dan limau kacang.

“Menjualnya ya di sini saja. Daripada susah-susah di bawa ke pasar harganya pun sama,” imbuh lelaki asli Brastagi itu.
 
Tawaran memang pernah datang dari seorang pedagang pengumpul yang tak dikenalnya. Orang  itu, kata Ucok, berniat ingin memborong atau menjadi pelanggan tetap. Tapi, harga yang ditawarkan jauh lebih rendah. Rp9 ribu per kg. Sedangkan harga sehari-hari yang dijual pondoknya Rp13 ribu per kg.

“Daripada harga rendah begitu, mending di sini saja bertahan. Tapi kalau ada yang mau membeli dengan harga yang sama dengan penjualan di sini, ya saya bersedia,” ujarnya.

Saat ditanya soal peran pemkab setempat terhadap petani jeruk, katanya, sejauh ini baru sebatas pembinaan dan pelatihan. Belum ada yang mengarah pada pemasaran. Masalah pemasaran dan penjualan jeruk, para petani masih berjalan sendiri-sendiri. Mengandalkan kemampuan berdagang sendiri.

“Sampai sekarang, masalah pemasarannya kita lakukan sendiri. Mudah-mudahan ada solusi, bagaimana supaya jeruk laku dijual dengan harga menguntungkan petani,” tutupnya. (*)

Sumber :  http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=4587

Aneka macam Jeruk Impor di Pasar Dalam Negeri

Aneka macam Jeruk Impor di Pasar Dalam Negeri

Jeruk Ponkam

 
Jeruk Ponkam
Asal Negara : Cina
1 dus (±10 Kg)
Ukuran: Ss = 96 pcs, S = 84 pcs, M = 68 pcs, L = 52 pcs
Perkiraan musim: Bulan November s.d Februari
Bentuknya bulat sedang kira-kira 6 sampai 9 cm, berbiji, rasanya manis. Hampir sama dengan Jeruk Santang Jeruk khas Imlek atau tahun baru Cina ini juga kaya akan vitamin C dan serat yang mampu membantu meningkatkan daya tahan tubuh sekaligus menyehatkan pencernaan.

Jeruk Santang Polos

 
Jeruk Santang Polos
Asal Negara : Cina
1 keranjang (± 8 Kg)
Perkiraan ketersediaan : Bulan November s.d Februari
Bentuknya bulat kecil kira-kira 4 sampai 6 cm, berbiji (jeruk santang ini biasanya dikemas dengan keranjang), rasanya manis. Jeruk khas Imlek atau tahun baru Cina ini juga kaya akan vitamin C dan serat yang mampu membantu meningkatkan daya tahan tubuh sekaligus menyehatkan pencernaan.

Jeruk Kino

 
Jeruk Kino
Asal Negara : Pakistan
1 dus (±10 Kg)
Isi per karton: 52/60/72/80

Jeruk Baby Sugar

Asal Negara : Cina
1 Karton (± 10 Kg)
Perkiraan ketersediaan : Bulan November s.d Desember
Bentuknya bulat sedang tanpa biji rasanya manis. Jeruk khas Imlek atau tahun baru Cina ini juga kaya akan vitamin C dan serat yang mampu membantu meningkatkan daya tahan tubuh sekaligus menyehatkan pencernaan.

 Jeruk Murcott 

 
Jeruk Murcott
Asal Negara : Argentina
1 dus (±10 Kg)
Isi per karton: 52/60/72/80


Jeruk Clemenvile

 
Jeruk Clemenvile
Asal Negara :Argentina, Uruguay
1 karton ±10 Kg
Jeruk, buah yang sangat populer, mudah diperoleh, dan relatif murah itu, ternyata mengandung banyak zat gizi yang baik bagi kesehatan dan pencegahan penyakit.
 
Jeruk telah lama dikenal sebagai buah dengan rasa segar dan bergizi baik. Selain sangat kaya vitamin dan mineral, ia juga mengandung serat makanan yang esensial (sangat diperlukan tetapi tidak dapat diproduksi dalam tubuh) bagi pertumbuhan dan berkembangan tubuh normal. Senyawa non-gizi yang dikandungnya ternyata juga membantu menurunkan risiko terkena beberapa jenis penyakit kronis, seperti kardiovaskuler, kanker, dan katarak.
 

Sayangnya, selama ini jeruk telanjur terkenal hanya sebagai sumber vitamin C. Padahal, buah bulat ini juga mengandung sederetan zat gizi esensial lainnya, yang meliputi karbohidrat (zat gula dan serat makanan), potasium, folat, kalsium, thiamin, niacin, vitamin B6, fosfor, magnesium, tembaga, riboflavin, asam pantotenat, dan senyawa fitokimia. 
Sumber: digikidblogs.blogspot.com





Jeruk Santang Daun

 
Jeruk Santang Daun
Asal Negara : Cina
1 keranjang (± 8 Kg)
Perkiraan ketersediaan : Bulan November s.d Februari
Jeruk khas Imlek atau tahun baru Cina ini juga kaya akan vitamin C dan serat yang mampu membantu meningkatkan daya tahan tubuh sekaligus menyehatkan pencernaan.




Jeruk Sunkist

 
Jeruk Sunkist Midknight
Asal Negara : Afrika Selatan
1 dus (±15 Kg)
Isi per karton: 52/60/72/80







Sumber : http://segarabadi.blogspot.com/search/label/Jeruk

Jeruk Keprok Asli Indonesia

Jeruk Keprok Asli Indonesia

Keprok Garut


Asal Garut, Jawa Barat, Rasa manis sedikit asam, Ukuran buah sedang, Warna daging buah oranye, Warna kulit buah hijau kekuningan, Tumbuh di dataran sedang (400-700 m d.p.l)

 

Keprok Batu 55


Asal Kota Batu, Jatim Rasa manis sedikit asam, ukuran buah sedang, warna daging buah oranye, warna kulit buah kuning-oranye, tumbuh di dataran tinggi (800 – 1200 mdpl)

 

Keprok SoE

 
Asal NTT, Rasa manis sedikit asam, Ukuran buah sedang, Warna daging buah oranye, Warna kulit buah kuning-oranye kemerahan, Tumbuh di dataran tinggi (900-1200 mdpl)

Sumber : http://kpricitrus.wordpress.com