...Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H.... Mohon maaf lahir dan batin...

Senin, 12 Januari 2015

Serbuan jeruk impor harus dilawan dengan produksi Jeruk Keprok sendiri




Trend Jeruk Impor dan Posisi Indonesia sebagai Produsen Jeruk Dunia

Oleh:  Zainuri Hanif dan Lizia Zamzami (staf peneliti Balitjestro)

Abstrak
Banjir buah impor yang kini dengan mudah diperoleh di pedagang kaki lima mengindikasikan makin tidak berdayanya buah domestik menghadapi gempuran buah dari luar negeri yang menjadikan Indonesia sebagai pasar utama. Volume jeruk impor pada Januari-April 2011 sudah mencapai 50 persen dari total impor sepanjang 2010. Jeruk Mandarin pada kuartal pertama 2011 mencapai 77.502 ton, padahal untuk keseluruhan tahun 2010 mencapai 96.489 ton (Badan Karantina Pertanian).

Sampai saat ini Indonesia termasuk negara pengimpor jeruk terbesar kedua di ASEAN setelah Malaysia, dengan volume impor khususnya untuk jenis keprok atau mandarin, selama kurun waktu 2005 - 2010 mencapai 550.809 ton atau sekitar 91.802 ton per tahun dengan nilai mencapai US $ 650.128.774 (Sumber BPS, 2011 diolah).

Menghadapi hal ini, perlu upaya untuk membendung gempuran jeruk impor: Pertama dengan penerapan ketentuan keamanan pangan internasional melalui Codex yang mengatur batas ambang maksimun terkait residu kimia makanan termasuk buah-buahan, Kedua dengan perbaikan dan ketersediaan jeruk dalam negeri sehingga mudah dijumpai masyarakat, dan Ketiga dengan menggiatkan “Program Keproknisasi Nasional”  Direktorat Jendral Hortikultura, (Dirjen Hortikultura) Kementrian Pertanian yang berkesinambungan dengan perlu dijabarkan lebih rinci dan lebih konkrit sehingga mudah untuk segera ditindaklanjuti. Jika produksi jeruk nasional tidak mampu memasok pasar dalam volume yang cukup, berkesinambungan dan berdaya saing kuat maka asa membendung banjir jeruk impor akan menjadi sekedar impian belaka.

Beberapa varietas jeruk keprok komersial hasil seleksi Balitjestro maupun dari Pemerintah Daerah yang sudah dilepas oleh Kementrian Pertanian dengan kualitas buah yang tidak kalah dengan jeruk impor antara lain Keprok Batu 55 berasal; dari Batu, Jawa Timur, keprok Garut dari Jawa Barat, keprok Pulung dari Jawa Timur, keprok Tawangmangu dari Jawa Tengah, dan keprok SoE dari NTT.
Kata kunci: jeruk, keprok, impor, codex

PENDAHULUAN
Pertumbuham impor jeruk sebesar 11% tiap tahun dalam sepuluh tahun ini membuat Indonesia menjadi pangsa pasar yang menjanjikan bagi negara lain dalam memasarkan produknya. Liberalisasi perdagangan jeruk telah mengancam keberadaan jeruk Indonesia sejak diluncurkannya Paket Juni/PAKJUN 1994 yang salah satu unsurnya adalah penurunan tarif impor buah-buahan termasuk jeruk. Apalagi disusul diberlakukannya ASEAN FTA/AFTA dan ASEAN-China FTA (Hutabarat, B dan Adi Setyanto, 2007). Dengan hilangnya hambatan tarif, berbagai Negara produsen jeruk dunia seperti China, Australia, Amerika, Pakistan semakin leluasa memasarkan produknya dengan harga yang lebih murah dalam jumlah lebih besar yang pada gilirannya akan mengancam petani domestik di Indonesia.

Saat ini Indonesia termasuk negara pengimpor jeruk terbesar kedua di ASEAN   setelah Malaysia, dengan volume impor sebesar 160.254 ton; sedangkan ekspornya hanya sebesar 415 ton pada 2010 (BPS) dengan tujuan ke Malaysia, Brunei Darusalam, dan Timur Tengah. Ekspor jeruk nasional masih sangat kecil dibanding dengan negara produsen jeruk lainnya seperti Brazil, China, Amerika, Spanyol, Afsel, Yunani, Maroko, Belanda, Turki dan Mesir. Oleh karena itu, pemacuan produksi jeruk nasional akan memiliki urgensi penting karena disamping untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, kesempatan kerja, konsumsi buah dan juga meningkatkan devisa  ekspor  nasional.  Impor  buah  jeruk  segar  yang  terus meningkat, mengindikasikan adanya segmen pasar (konsumen) tertentu yang menghendaki  jenis  dan  mutu  buah  jeruk  prima  yang  belum  bisa  dipenuhi produsen dalam negeri.

Status Kondisi Saat Ini
Buah Jeruk menjadi salah satu buah yang sangat diminati oleh masyarakat Indonesia. Diantaranya yang paling populer adalah jeruk keprok (mandarin) yang dikonsumsi sebagai buah segar. Jeruk Keprok rasanya manis, segar, harga relatif murah, dan mudah didapat dimana saja, kapan saja di seluruh pelosok negeri. Apalagi dalam beberapa tahun sekarang ini buah jeruk impor membanjiri pasar Indonesia. Ketersediannya hampir sepanjang tahun. Berikut ditampilkan perbandingan masa panen jeruk Indonesia (siam, keprok dan pamelo) dan masa panen jeruk di luar negeri.

Tabel 1. Perbandingan masa panen sentra produksi jeruk Indonesia dengan negara produsen  jeruk dunia lainnya.
Sumber BPS 2010 dan Federal Bureau of Statistics, Government of Pakistan, Karachi (2005)

Walaupun buah jeruk di Indonesia dapat dijumpai sepanjang tahun, tetapi periode panen buah jeruk di Indonesia umumnya dimulai dari bulan Februari hingga September dengan puncaknya terjadi pada bulan Mei, Juni, dan Juli seperti terlihat pada Tabel 1 yang dapat bergeser  karena  perlakuan  pengaturan  pembungaan dan akhir-akhir ini berubah pula diakibatkan oleh cuaca yang tidak menentu. Karena tujuan pemasaran utama jeruk hanya ke kota-kota besar di Jawa terutama Jakarta dan Surabaya, maka pada bulan puncak panen, harga buah jeruk di tingkat petani sering menjadi sangat murah, bahkan bisa mencapai di bawah Rp 1000/kg. Di sisi lain, gudang penyimpanan dingin yang ada belum mampu menampung  kelebihan produk dari petani (untuk buah impor tidak ada masalah), sedangkan pabrik olahan skala rumah tangga maupun industri belum banyak dibangun saat ini.

Pola panen tersebut memperlihatkan bahwa ketersediaan jeruk lokal tidak dapat memenuhi kebutuhan pasar domestik sepanjang tahun, sehingga membuka peluang masuknya jeruk-jeruk impor. Dari sisi waktu panen, periode awal dan akhir tahun di berbagai propinsi sentra jeruk tidak mengalami panen, namun justru di luar negeri terjadi panen raya dan stok buah melimpah. Disamping masalah musim, masalah lain yang terjadi pada komoditas jeruk adalah masalah pendistribusian hasil panen, khususnya pada saat panen raya.

Pada tahun 2004-2005, ekspor jeruk Pakistan ke Indonesia mengalami penurunan drastis akibat penerapan kenaikan tarif dari 5% sampai 25%. Indonesia merupakan pasar ekspor buah terbesar bagi Pakistan dimana 97% adalah jeruk kinnow dengan jumlah 30.000 ton. Pakistan sangat gigih mempersoalkan perbedaan tarif ini untuk memperluas akses pasar ekspornya bagi komoditas yang sangat penting bagi petani mereka. Sampai tahun 1974-1975, jeruk merupakan buah terbesar ke-2 di Pakistan setelah mangga dari segi luas dan produksi, tetapi meningkat tajam menjadi pososi pertama setelah introduksi varietas kinnow yang dahulu dilakukan oleh Akademi Pertanian dan Lembaga Penelitian Lyallpur yang sekarang berubah menjadi Universitas Pertanian di Faisalabad. (Hutabarat, B dan Adi Setyanto, 2007)


Produksi Jeruk dunia menempatkan China sebagai produsen jeruk utama hampir di semua jenis jeruk. China sebagai produsen Citrus Fruit, Nes (no 1), Oranges (no 4), Tangerine, Mandari dan Clem (no1), Grapefruit (no 1), Lemons dan Limes (no 3). Indonesia masuk dalam urutan ke-10 produksi Oranges. Namun, ternyata nilai produksi 2.102.560 ton adalah untuk semua jenis jeruk, mulai dari jeruk manis, siam, keprok dan pamelo.

Tabel 2. Sepuluh besar negara sebagai produsen jeruk dunia 2009 (MT)

Impor Jeruk Indonesia
Banjir buah impor yang kini dengan mudah diperoleh di pedagang kaki lima mengindikasikan makin tidak berdayanya buah domestik menghadapi gempuran buah dari luar negeri yang menjadikan Indonesia sebagai pasar utama.
Meluasnya pasar buah impor di Indonesia, karena kualitas produk buah lokal Indonesia belum bisa menunjukkan keunggulannya dibandingkan dengan buah impor dari luar. Berlakunya sistem perdagangan bebas membuat pemerintah tidak bisa berbuat banyak untuk menanggulangi terjadinya peningkatan impor buah. Hal tersebut tidak perlu terjadi jika kita bisa membuktikan bahwa produk buah Indonesia pada dasarnya sanggup bersaing dengan buah impor baik dalam kualitas maupun harga.

Tabel 3. Tabel Jumlah Jeruk Impor 2000 - 2011 (Triwulan 1)


Gambar 1. Tabel Perkembangan Jeruk Impor Indonesia (2000-2011 Triwulan 1)

Berdasarkan data tersebut, rata-rata pertumbuhan impor jeruk setiap tahun sejak tahun 2000-2011 sebesar 11 % atau 5.099.686 kg. Peningkatan impor yang sangat signifikan tersebut menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi industri jeruk nasional. Jika impor jeruk pada tahun 2010 sebesar 160.254.789 kg atau 160.255 ton, sedangkan kapasitas produksi jeruk nasional pada 2009 adalah sebesar 2.131.768 ton, nilai impor itu masih kecil yaitu sebesar 7,5% dari produksi nasional. Namun, kenyataanya begitu banyak dan mudahnya buah jeruk impor yang dapat ditemukan di supermarket sampai pedagang kaki lima, bahkan pada pedagang di pasar tradisional yang lebih banyak menjajakan buah impor dibandingkan buah lokal. Data dari Pusdatin Kementan perlu dikritisi bersama. Apakah benar nilai sebesar 7,5% itu membuat kekhawatiran yang cukup tinggi terhadap jeruk impor.

Sejalan dengan perkembangan ekonomi dunia, usaha-usaha di bidang pertanian akan menghadapi lingkungan yang berbeda karena adanya perubahan-perubahan secara internasional maupun domestik.  Perubahan lingkungan internasional antara lain yang terjadi adalah liberalisasi ekonomi dan perdagangan dengan disepakatinya perjanjian GATT (General Agreement on Tariff and Trade), WTO (World Trade Organization), dan AFTA (Asean Free Trade Area). Dalam perjanjian tersebut kebijakan ekonomi yang terdistorsi seperti pengenaan pajak ekspor, tarif impor, subsidi ekspor, pengaturan tataniaga, intervensi terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar dan penetapan suku bunga baik dalam kegiatan produksi maupun perdagangan komoditas pertanian termasuk jeruk, secara bertahap dan pasti akan dikurangi dan akhirnya hilang (Aprilaila, 2009).

Buah impor masuk ke Indonesia melalui 7 pintu masuk, yang terdiri dari 4 pelabuhan dan 3 bandara (Pelabuhan Laut Belawan Medan, Pelabuhan Laut Batam, Bandara Soekarno Hatta Cengkareng, Pelabuhan Laut Tanjung Priok Jakarta, Pelabuhan Laut Tanjung Perak Surabaya, Bandara Hasanuddin Makassar dan Bandara Ngurah Rai Denpasar). Pemasukan terbesar melalui pintu pelabuhan yaitu Pelabuhan laut Batam, Pelabuhan Laut Tanjung Priok Jakarta , dan Pelabuhan Laut Tanjung Perak Surabaya. Dengan banyaknya peredaran jeruk impor di Indonesia yang tidak terkontrol dan terantisipasi dengan baik akan membuat kondisi perjerukan Indonesia kembali terpuruk akibat persaingan harga, kualitas dan kuantitas.

Fenomena kenaikan impor yang signifikan dalam 5 tahun terakhir ini akan terus berlanjut. Apalagi pada tahun 2012 impor jeruk kino Pakistan bebas bea masuk. Adanya perdagangan bebas terbatas atau Preferential Trade Agreement (PTA) antara Indonesia dengan Pakistan, membuat persaingan perdagangan jeruk di pasar dalam negeri semakin ketat. Salah satu klausul perjanjian ini adalah menghapus bea masuk impor (0%) jeruk kino Pakistan yang selama ini dikenakan bea masuk 15-20% di Indonesia. Di saat yang bersamaan produk sawit Indonesia yang selama ini dikenakan tarif tinggi di Pakistan akan dipangkas menjadi hanya 5% (Hutabarat, B dan Adi Setyanto, 2007).

Selain itu, adanya perdagangan bebas antara negara-negara ASEAN dan China menyebabkan komoditas jeruk yang mayoritas diimpor dari China telah bebas masuk ke pasar Indonesia. Buah-buahan dari China memang memiliki keunggulan, seperti harga yang lebih rendah dan ketersediaan pasokan yang melimpah. Sebagai contoh, perbandingan harga jeruk mandarin dari China dijual ke konsumen dengan harga Rp 15.000 per kilogram (kg), sedangkan jeruk Medan atau Pontianak dijual lebih mahal yaitu Rp 20.000/kg.

Ketersediaan pasokan buah impor dari China juga menjadi penyebab lainnya. China sudah memiliki kawasan produksi buah-buahan dan sayuran yang memadai baik dari segi luas lahan maupun teknologi penanamannya. Efeknya, mereka bisa memproduksi buah-buahan dan sayuran terus-menerus sepanjang tahun tanpa harus terhambat masalah cuaca. Kondisi sebaliknya menimpa buah-buahan Indonesia. Produksi buah-buahan di beberapa daerah sering terhambat akibat cuaca buruk. Indonesia juga tidak memiliki kawasan khusus yang dijadikan lumbung produksi buah.

Sentra produksi jeruk yang ada sekarang belum berbentuk suatu hamparan namun masih berupa kantong-kantong produksi yang sempit dan terpencar di kawasan sentra produksi (Badan Litbang Pertanian, 2007).nnDari sisi produksi, luas panen dan produktifitas sejak tahun 2005-2009, berdasarkan data dari Pusdatin Kementerian Pertanian (2011) menunjukkan perkembangan perjerukan Indonesia tidak mengalami perubahan yang sangat drastis.

Tabel 4. Produksi, Luas Panen dan Produktifitas Jeruk Indonesia (2005-2009)

Keamanan Buah Impor
Untuk membendung laju buah impor dari luar negeri, Kementrian Pertanian (Kementan) telah memiliki Permentan No 27/2009 tentang pengawasan keamanan pangan terhadap pemasukan dan pengeluaran pangan segar asal tumbuhan. Pengawasan tersebut meliputi batas maksimum residu pestisida, cemaran mikotoksin, dan logam berat. Tujuan pengawasan adalah untuk menjamin agar pangan yang diimpor tetap segar, bersih dari pencemaran bahan kimia yang melebihi batas maksimum yang aman dan layak dikonsumsi.

Setyabudi, dkk (2008) yang melakukan penelitian buah impor di Bogor dan sekitarnya mengungkapkan bahwa buah-buahan impor teridentifikasi mengandung formalin dan pestisida yang dilarang dalam penggunaannya. Penggunaan formalin dan pestisida pada buah-buahan impor dapat terjadi di negara produsennya maupun setelah sampai di Indonesia. Oleh karena itu perlu standar mutu yang lebih luas terhadap buah impor guna melindungi konsumen terhadap dampak negatif dari penggunaan bahan kimia terlarang.

Langkah yang seharusnya dilakukan oleh pihak terkait dalam menyikapi terhadap buah impor dalam perdagangan global adalah:
(1) Perlu langkah antisipatif dengan melakukan survei yang lebih luas dan mendalam mengenai pemakaian bahan berbahaya pada buah dan sayuran impor.
(2) Memberikan rekomendasi pelarangan terhadap buah-buahan impor yang terbukti mengandung formalin maupun pestisida yang mengandung bahan berbahaya.
(3) Diberlakukan standar mutu yang mempersyaratkan bebas dari bahan berbahaya terhadap buah-buahan impor sehingga dapat melindungi konsumen di dalam negeri. Dan
(4) Diperlukan pembinaan pada pedagang buah dan sayuran impor terhadap penggunaan bahan-bahan yang berbahaya.
Australia telah melaksanakan Program Pemeriksaan Makanan Impor untuk semua makanan impor yang masuk ke negaranya.

Demi melindungi konsumennya, Badan Inspeksi dan Karantina Australia (Australian Quarantine Inspection Service / AQIS) memberlakukan persyaratan yang ketat bagi setiap produk makanan dan minuman impor yang masuk ke Australia. Persyaratan ini dituangkan ke dalam suatu program yang disebut ‘Imported Food Inspection Program (IFIP)’. Tujuan utama program ini adalah untuk memastikan bahwa semua makanan impor yang masuk ke Australia memenuhi standard kesehatan dan pelabelan Australia, yang dapat ditemukan di 'Australian Food Standard Code (FSC)’ (KBRI Canberra, 2006).

Upaya Membendung Jeruk Impor
Pertama, dengan penerapan ketentuan keamanan pangan internasional melalui Codex yang mengatur batas ambang maksimun terkait residu kimia makanan termasuk buah-buahan. SNI 3165:2009 yang mengatur standar jeruk keprok menetapkan ketentuan tentang mutu, ukuran, toleransi, penampilan, pengemasan, pelabelan, rekomendasi dan higienis pada buah jeruk keprok (Citrus sinensis (L) Osbeck). Negara maju, seperti Amerika dan Jepang mengamankan produk dalam negerinya dengan menerapkan standar kesehatan yang tinggi, khususnya atas produk impor. Larangan impor atas dasar kesehatan tidak melanggar perjanjian perdagangan bebas.

Kedua, dengan perbaikan dan ketersediaan jeruk dalam negeri yang berkesinambungan sehingga mudah dijumpai oleh masyarakat. Permasalahan yang ada selama ini yaitu ongkos produksi tinggi, keberlanjutan usaha tidak pasti, biaya transaksi dan pemasaran tinggi (Hutabarat, B dan Adi Setyanto, 2007). Penelitian pada beberapa komoditas sayuran dan buah di berbagai lokasi yang dilakukan Agustian et al. (2005) menunjukkan bahwa untuk komoditas jeruk di Sumatera Utara, pada jalur pemasaran jenis apapun yang dilakukan oleh petani, petanilah yang harus menanggung berbagai beban pungutan untuk jasa, biaya angkut, biaya timbang, dan biaya pemindahan barang. Biaya pengiriman dari tanah Karo ke Pulau Jawa sewaktu-waktu dapat meningkat karena mengalami pungutan/retribusi resmi (ada 28 buah) maupun tidak resmi (17 buah).

Ketiga, dengan menggiatkan “Program Keproknisasi Nasional” yang merupakan program dari Direktorat Jendral Hortikultura (Dirjen Hortikultura) Kementerian Pertanian yang berkesinambungan, dengan perlu dijabarkan lebih rinci dan lebih konkrit sehingga mudah untuk segera ditindaklanjuti. Jika produksi jeruk nasional tidak mampu memasok pasar dalam volume yang cukup, berkesinambungan dan berdaya saing tinggi maka asa membendung banjir jeruk impor akan menjadi sekedar impian belaka.

Beberapa varietas jeruk keprok komersial hasil seleksi Balitjestro maupun dari Pemerintah Daerah yang sudah dilepas oleh Kementrian Pertanian dengan kualitas buah yang tidak kalah dengan jeruk impor antara lain Keprok Batu 55 berasal dari Batu, Jawa Timur, keprok Garut dari Jawa Barat, keprok Pulung dari Jawa Timur, keprok Tawangmangu dari Jawa Tengah, dan keprok SoE dari NTT.

Kebutuhan Buah Jeruk Nasional
Standar konsumsi buah yang ditetapkan Food and Agriculture Organization of United Nation (FAO), yakni sebesar 65,75 kilogram per kapita per tahun, sementara konsumsi buah masyarakat Indonesia masih rendah yaitu 32,67 kg per kapita per tahun (Kompas, 2010). Jika 10% saja dari jumlah standar FAO tersebut adalah buah jeruk, yaitu sebanyak 6 kg per kapita per tahun, maka dengan jumlah penduduk 237 juta jiwa (BPS, 2010) akan dibutuhkan 1.422.000 ton/tahun.

Jika produktivitas jeruk nasional sekitar 20 ton/ha maka dibutuhkan kebun jeruk seluas 71.110 hektar. Luas panen Jeruk (siam, mandarin, dan pamelo) menurut Kementerian Pertanian (2009) sebanyak 60.190 hektar dengan produksi 2.131.768 ton. Disisi lain masih terdapat tanah terlantar secara nasional sebanyak 7,3 juta hektar (BPN, 2010). Kebutuhan 1.422.000 ton/tahun sanggup dipenuhi 2.131.768 ton.

Jadi seharusnya Indonesia masih bisa melakukan ekspor sebesar 709.768 ton. Namun pada tahun 2010 lalu, untuk jeruk mandarin saja, Indonesia masih mengimpor 160.254 ton (BPS, 2010). Artinya masih ada masalah dengan produktifitas jeruk Indonesia atau validitas data yang perlu dikritisi. Dengan asumsi seperti ini, Indonesia masih mempunyai peluang besar untuk bersaing dengan jeruk impor.

Kesimpulan
Upaya untuk membendung gempuran jeruk impor adalah Pertama dengan penerapan ketentuan keamanan pangan internasional melalui Codex yang mengatur batas ambang maksimun terkait residu kimia makanan termasuk buah-buahan, Kedua dengan meningkatkan mutu dan ketersediaan jeruk dalam negeri sehingga mudah dijumpai di masyarakat, dan Ketiga dengan menggiatkan “Program Keproknisasi Nasional”.

Daftar Pustaka
  • Agustian et al. (2005). Analisis Berbagai Bentuk Kelembagaan Pemasaran dan Dampaknya terhadap Kinerja Usaha Komoditas Sayuran dan Buah. Laporan Penelitian. PSEKP, Badan Litbang, Departemen Pertanian, Bogor.
  • Aprilaila S, et al. 2009. Analisis Daya Saing Komoditas Jeruk Siam Jember. Prosiding Seminar Nasional Buah Nusantara. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor, 28 – 29 Oktober 2009. Hal 183-197.
  • Badan Litbang Pertanian. 2007. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Jeruk. Departemen Pertanian.
  • Basis Data Pertanian. 2001. http://aplikasi.deptan.go.id/bdsp/index.asp . Diakses 23 Juli 2011
  • BPS. 2011. Data Ekspor-Impor. http://www.bps.go.id/. Diakses 30 Juli 2011
  • Federal Bureau of Statistics, Government of Pakistan, Karachi. Citrus Marketing Strategy. Pakistan Horticulture Developement & Export Board. May 2005.
  • Hutabarat, B dan Adi Setyanto. 2007. Komoditas Jeruk Indonesia di Persimpangan Jalan Pasar Domestik dan Internasional. Prosiding Seminar Nasional Jeruk. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Yogyakarta, 13-14 Juni 2007.  Hal 1-30.
  • KBRI Canberra, 2006. Ketentuan Impor Australia.pdf www.kbri-canberra.org.au/econ/2006/Peraturan%2520Impor%2520Australia%2520Rev.1.pdf+buah+impor.pdf. Diakses 28 Juli 2011.
  • Kompas, 2010. Konsumsi Buah Masyarakat Sangat Rendah. http://kesehatan.kompas.com/read/2010/06/27/13245684/Konsumsi.Buah.Masyarakat.Sangat.Rendah. Diakses 23 Juli 2011
  • Setyabudi, dkk. 2008. Perlunya Standar Mutu Buah Impor: Studi Kasus Kontaminan pada Buah-buahan Impor. Prosiding PPI Standardisasi 2008. Puslitbang BNS. 25 November 2008

Keterangan: Tulisan ini sudah dimuat dalam Prosiding Workshop Rencana Aksi Rehabilitasi Agribisnis Jeruk Keprok SoE yang Berkelanjutan untuk Substitusi Impor , Halaman 107-114. Diterbitkan Oleh Badan Litbang Pertanian, Dirjend Hortikultura dan ACIAR. ISBN 978-979-8257-46-9

Sumber :  http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/id/510.html#sthash.BT7zKFpY.dpuf




Jumat, 01 Juni 2012

Varietas Jeruk Produksi Sequoia Orange Co.Navel Oranges

Varietas Jeruk Produksi Sequoia Orange Co.

 

Navel Oranges  

Navel Oranges, Jeruk yang paling disukai di America  Valencia Oranges  

Valencia Oranges 


  • Melogold Grapefruit 
  • Melogold Grapefruit    
  • Melogold Grapefruit Minneola Tangelo  
  • Minneola Tangelos 
  • Pixie Tangerine  
  • Pixie Tangerines 
  • Gold Nugget 
  •  Gold Nugget Tangerines

Sumber : http://www.sequoiaorange.com/packs.html

Analisa Usaha Tani Jeruk Manis di Malaysia

Cashflow of SWEET CITRUS

Sweet Citrus or locally known as Limau Manis or Limau Langkat (Citrus suhuensis) was popular many years ago as important commodity but due to serious disease attack (Citrus Greening Disease) the industry was collapsed. The popular variety was known as Limau Madu or Clone M32. 
 
From my observation and study there was about 3,940 hectare with annual production of 70 metric ton in 2009 almost half from 10 years before. Asa Jaya District in Sarawak was the major production area with 294 hectare followed by Daerah Simunjan Sarawak (288 ha) and Daerah Beaufort Sabah (230 ha). 
This article I would share my knowledge of Sweet Citrus cashflow based on my study in June 2010.

Planting Distance : 6m X 4.5 m
Planting density (tree /ha) : 370 tree
Cashflow Duration : 15 Year

I) CASH IN FLOW
1. Production of citrus fruit (kg/yr) = 224,960 kg
2. Gross Farm Income (RM 2.35/kg) = RM 528,656.00


B. CASH IN FLOW

I) Development Cost (New planting)
1. Land Clearing = RM 2,000.00
2. Drainage system = RM 500.00
3. Farm roads = RM 2,000.00
4. Land preparation (Plough) = RM 300.00
5. Irrigation system = RM 9,000.00
6. Seedling @5.00/pk = RM 2,035.00
7. Fencing = RM 2,000.00
8. Store = RM 500.00
Subtotal A = RM 18,335.00

II) Cost of Input1. Basal Fertilizer = RM 569.80
2. Organic fert = RM 59,940.00
3. NPK Green = RM 26,906.40
4. NPK Blue = RM 60,606.00
5. Calsium Nitrate = RM932.40
6. Foliar Fertilizer = RM 10,140.00
7. Liming/GML = RM 2,225.92
8. Pesticide = RM 6,180.48
9. Fungicide = RM 22,661.76
10. Weedicide = RM 3,861.00
11.Basket = RM 18,000.00
12.Fuel(Diesel) = RM 7,500.00
13.Farm tools= RM 2,100.00
Subtotal B = RM 221,623.76
III) Labor Costs @RM 25.00/man/day1. Manuring = RM 3,960.00
2. Weed Control = RM 3,600.00
3. Pest & Disease Control = RM 19,440.00
4. Pruning = RM 3,060.00
5. Maintenance = RM 1,800.00
6. Harvesting @10sen/kg = RM 22,496.00
7. Other works = RM 1,800.00
Subtotal C = RM 56,156.00

C. CASHFLOW ANALYSIS
MAIN TOTAL COST = RM 296,114.76
EXTRA COSTS (10%)= RM 29,611
TOTAL COSTS OF PRODUCTION = RM 325,726.24
GROSS FARM INCOME = RM 528,656.00
NETT FARM INCOME = RM 202,979.26
NETT FARM INCOME/YEAR = RM 13,528.25
NETT FARM INCOME/MONTH = RM 1,127.39
BENEFIT COST RATIO = RM 1.63
BREAKEVEN POINT = RM 1.45
 
Note:
Cashflow for 15 years cumulative for sweet citrus (Limau Madu) in Malaysia.
By, M Anem Agronomist DOA
 
Sumber : http://animagro.blogspot.com/search/label/Cshflow%20of%20SWEET%20CITRUS

Kamis, 31 Mei 2012

OPT Penyebab Buah Burik Kusam Pada Buah Jeruk

OPT Penyebab Buah Burik Kusam Pada Buah Jeruk


 
Kutu Sisik
Kutu menyerang daun, ranting dan buah, menyukai tempat-tempat yang terlindung, seperti di bagian bawah permukaan daun di sepanjang tulang daun.  Kutu Sisik mengeluarkan toksin saat menusuk pada tanaman. Daun yang terserang akan berwarna kuning, terdapat bercak-bercak klorotis dan seringkali membuat daun menjadi gugur.  Serangan berat akan mengakibatkan ranting dan cabang menjadi kering serta terjadi retakan-retakan pada kulit. Jika serangan terjadi di sekeliling pangkal buah, akan menyebabkan buah gugur.  Akibat serangan pada buah dapat menurunkan kualitas, karena kotor dan bila dibersihkan meninggalkan bercak-bercak hijau atau kuning pada kulit buah.
 
Embun Tepung (Powdery mildew)
Patogen : Oidium tingitanium Carter.
Penyebarannya di semua pertanaman jeruk  di Indonesia, terutama pada musim kemarau yang lembab. Gejala ditunjukkan dengan adanya tanda lapisan tepung putih pada bagian atas daun, yang dapat menyebabkan daun malformasi (mengering akan tetapi tidak gugur).  Lapisan tepung putih ini adalah masa konidia jamur.  Fase kritis serangan adalah periode pertunasan dan daun muda yang sedang tumbuh, buah muda yang terserang mudah gugur.
 
Kudis (Scab)
Patogen : Spaceloma fawcetti jenkins.
Agroklimat yang menyebabkan tanaman inang rentan terjadi penyakit kudis adalah dataran tinggi basah dan dataran rendah basah. Gejala terlihat dengan adanya bercak kecil jernih pada daun dan helaian daun, kemudian berkembang menjadi semacam gabus berwarna kuning/coklat. Infeksi hanya terbatas pada salah satu permukaan daun saja.  Ukuran bercak lebih besar daripada kanker jeruk. Serangan parah menyebabkan pertumbuhan kerdil dan deformasi titik tumbuh.  Masa kritis dimulai saat fruitset sampai buah pentil.
 
Embun Jelaga (Sooty mold)      
Patogen : Jamur Capnodium citri
Terdapat pada setiap tanaman jeruk terutama bila dijumpai adanya kutu daun aphididae yang mengeluarkan embun madu. Daun, ranting dan buah terserang dilapisi oleh lapisan berwarna hitam.  Pada musim kering lapisan ini dapat dikelupas dengan menggunakan tangan dan mudah tersebar oleh angin.  Buah yang tertutup lapisan hitam ini biasanya ukurannya lebih kecil dan terlambat matang (masak). Penetrasi terutama terjadi pada permukaan kulit, hanya 10% penetrasi yang terjadi pada lapisan epidermis yang tidak dapat dibersihkan sehingga menjadi burik kusam.
 
Kanker Jeruk (Citrus cancer)
Patogen : Xanthomonas axonopodis pv. Citri
Tersebar diseluruh Indonesia, jeruk nipis (C. aurantifolia) dan pamelo (C. maxima Merr.) yang tumbuh pada suhu 20-35°C sangat peka terhadap penyakit ini. Infeksi terjadi melalui stomata, lentisel dan luka. Gejala awal berupa bercak putih pada sisi bawah daun yang selanjutnya warna hijau gelap, kadang-kadang berwarna kuning di sepanjang tepinya. Pada buah ditandai dengan gejala terbentuk gabus warna coklat tetapi bagian tepi tidak berwarna kuning.

Sumber : http://yusufsila-tumbuhan.blogspot.com/2011/07/opt-penyebab-buah-burik-kusam-pada-buah.html

7 Fakta buah jeruk

7 Fakta buah jeruk




1. Jeruk Pontianak sebenarnya bukan berasal dari Pontianak, tetapi berasal dari Kota Tebas Kabupaten Sambas.


2. Memiliki 6 grade kualitas, yaitu AA, A, B, C, D dan yang paling rendah grade sompi. Kebanyakan yang di ekspor keluar adalah grade AA atau A dan kebanyakan yang di jual di Kalimantan Barat adalah grade B ke bawah.

3. Memiliki akar yang kuat sehingga banyak dijadikan sebagai kaki meja dan perabotan lainnya.


4. Buah kecil memiliki rasa yang lebih manis dan segar daripada buah yang besar.


 5. Rekor terbaru dalam memakan jeruk terbanyak adalah sebanyak 3000 buah di Kota Pontianak pada Oktober 2010.


6. Tugu jeruk terdapat di perbatasan Kota Tebas.


7. Sari buah jeruk sangat nikmat bila diminum pada cuaca panas.

 
Sumber : http://siangmalamonline.blogspot.com/2010/10/7-fakta-buah-jeruk.html

PENANGANAN PANEN DAN PASCA PANEN BUAH JERUK

PENANGANAN PANEN DAN PASCA PANEN BUAH JERUK



 
PENDAHULUAN
Jeruk Komersial Indonesia
Secara umum jeruk yang dihasilkan di dalam negeri mutunya terutama penampilan buah masih kalah bersaing dengan jeruk impor sehingga harga jualnya juga relatif lebih rendah. Masalah mendasar dari rendahnya mutu buah jeruk pasca panen adalah memar, lewat masak saat panen, perubahan komposisi, dan pembusukan.  Penyebab utamanya adalah kegiatan panen dan penangann pasca panennya belum memadai. 
Sebagai contoh, kebiasaan petani yang melakukan panen pada saat buah belum masak atau membiarkan buah melampaui masak optimal di pohon karena untuk mendapatkan harga tinggi atau karena sitem ijon.   Kondisi ini ini diperparah oleh minimnya penanganan paska panen yang dilakukan oleh petani maupun pedagang buah sehingga mutu buah (penampilan, kesehatan, kandungan gizi) sangat beragam dan cenderung kurang memuaskan konsumen.
Buah jeruk setelah dipetik masih melakukan proses fisiologis yaitu respirasi dan transpirasi yang menyebabkan perubahan kandungan zat-zat dalam buah. Respirasi adalah suatu proses pengambilan O2 untuk memecah senyawa-senyawa organik (substrat) menjadi CO2, H2O dan energi.  Sedangkan transpirasi adalah proses kehilangan air melalui penguapan.  Substrat yang penting dalam respirasi meliputi karbohidrat,  beberapa jenis gula seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa; asam organik; dan protein.
Berdasarkan ketersediaan O2, respirasi dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu respirasi aerob dan respirasi anaerob. Respirasi aerob merupakan proses respirasi yang membutuhkan O2, sebaliknya respirasi anaerob merupakan proses repirasi yang berlangsung tanpa membutuhkan O2. Respirasi anaerob sering disebut juga dengan nama fermentasi. Respirasi aerob pada buah tropis digambarkan dengan reaksi berikut:
C6H12O6 + 6O2 → 6CO2 + 6H2O + 678kal
Berdasarkan pola respirasinya, buah dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu buah klimakterik dan non klimakterik.  Buah klimakterik adalah buah yang mengalami kenaikan produksi CO2 secara mendadak, kemudian menurun secara cepat.  Buah klimakterik mengalami peningkatan laju respirasi pada akhir fase kemasakan, sedang pada buah non klimakterik tidak terjadi peningkatan laju respirasi pada akhir fase pemasakan.  Buah jeruk termasuk non klimaterik, sebaiknya panen dilakukan sebelum akhir fase kemasakan buah agar daya simpannya lebih lama.  
Adanya respirasi menyebabkan buah menjadi masak dan tua yang ditandai dengan proses perubahan fisik, kimia, dan biologi antara lain proses pematangan, perubahan warna, pembentukan aroma dan kemanisan, pengurangan keasaman, pelunakan daging buah dan pengurangan bobot. Laju respirasi dapat digunakan sebagai petunjuk untuk mengetahui daya simpan sayur dan buah setelah panen. Semangkin tinggi laju respirasi, semakin pendek umur simpan.  Bila proses respirasi berlanjut terus, buah akan mengalami kelayuan dan akhirnya terjadi pembusukan yang sehingga zat gizi hilang.
Laju respirasi buah dan sayuran dipengaruhi oleh faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam yang mempengaruhi respirasi adalah tinggkat kedewasaan, kandungan substrat, ukuran produk, jenis jaringan dan lapisan alamiah seperti lilin, ketebalan kulit dan sebagainya. Sedangkan faktor luar yang mempengaruhi adalah suhu, konsentrasi gas CO2 dan O2 yang tersedia, zat-zat pengatur tumbuh, dan kerusakan yang ada pada buah.
Penanganan Paska panen
Aktivitas panen dan penanganan seperti teknik pemanenan yang kurang tepat, sortasi yang tidak baik, pengemasan dan pengepakan, pengangkutan dan penyimpanan yang kurang diperhatikan serta adanya serangan hama dan penyakit dapat menyebabkan kerusakan buah jeruk hingga sekitar 25%.  Untuk menghasilkan jeruk bermutu tinggi, alur penanganan panen hingga pemasaran yang perlu diterapkan adalah sebagai berikut :
Panen
Umur buah/tingkat kematangan buah yang dipanen, kondisi saat panen, dan cara panen merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi mutu jeruk.  Umur buah yang optimum untuk dipanen adalah sekitar 8 bulan dari saat bunga mekar.  Ciri-ciri buah yang siap dipanen : jika dipijit tidak terlalu keras; bagian bawah  buah jika dipijit terasa lunak dan jika dijentik dengan jari tidak berbunyi nyaring, warnanya menarik (muncul warna kuning untuk jeruk siam), dan kadar gula (PTT) minimal 10%.  Kadar gula dapat ditentukan dengan alat hand refraktometer di kebun.  
Dalam satu pohon, buah jeruk tidak semuanya dapat dipanen sekaligus, tergantung pada kematangannya. Jeruk termasuk buah yang kandungan patinya rendah sehingga bila dipanen masih muda tidak akan menjadi masak seperti mangga. Jika panen dilakukan setelah melampaui tingkat kematangan optimum atau buah dibiarkan terlalu lama pada pohon, sari buah akan berkurang dan akan banyak energi yang dikuras dari pohon sehingga mengganggu kesehatan tanaman dan produksi musim berikutnya. Panen yang tepat adalah pada saat buah telah masak dan belum memasuki fase akhir pemasakan buah.  Dalam penyimpanan, rasa asam akan berkurang karena terjadi penguraian persenyawaan asam lebih cepat dari pada peruraian gula.
Kerusakan mekanis selama panen bisa menjadi masalah yang serius, karena kerusakan tersebut menentukan kecepatan produk untuk membusuk, meningkatnya kehilangan cairan dan meningkatnya laju respirasi serta produksi etilen yang berakibat pada cepatnya kemunduran produk. Panen dapat dilakukang dengan tangan maupun gunting. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam panen jeruk :
  • Jangan melakukan panen sebelum embun pagi lenyap.
  • Tangkai buah yang terlalu panjang akan melukai buah jeruk yang lain sehingga harus di potong di sisakan sekitar 2 mm dari buah.
  • Panen buah di pohon yang tinggi harus menggunakan tangga, agar cabang dan ranting tidak rusak.
  • Jangan memanen buah dengan cara memanjat pohon, karena kaki kotor dapat menyebarkan penyakit pada pohon
  • Pemanen buah dilengkapi dengan keranjang yang dilapisi karung plastik atau kantong yang dapat digantungkan pada leher.
  • Wadah penampung buah terbuat dari bahan yang lunak, bersih, dan buah diletakkan secara perlahan.  Krat walau biaya awalnya mahal, bisa ditumpuk, bertahan lama, dapat dipakai berulang-ulang dan mudah dibersihkan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jeruk yang cara pengambilanya berhati-hati dan disimpan pada temperatur kamar 23-31oC selama 3 minggu, yang busuk mencapai 7 %; buah yang dijatuhkan diatas lantai yang busuk sebanyak 12 %; buah yang dipetik basah yang busuk sebesar 21 %; buah yang dipetik terlalu masak yang busuk sebanyak 29 %;  buah yang terkena sinar matahari selama satu hari yang busuk sebanyak 38 %.
2.  Sortasi dan Pencucian
Sortasi atau seleksi merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan setelah panen yang umumnya dikerjakan di bangsal pengemasan atau di kebun dengan tujuan memisahkan buah yang layak dan tidak layak  untuk dipasarkan (busuk, terserang penyakit, cacat, terlalu muda/tua dan lain-lain).  
Sortasi juga dilakukan untuk memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan oleh pemerintah atau pasar.  Setelah sortasi, buah jeruk dicuci untuk membersihkan kotoran dan pestisida yang masih menempel pada permukaan kulit buah.  Buah direndam dalam air yang dicampur deterjen atau cairan pembersih 0,5-1 %, kemudian digosok pelan-pelan menggunakan lap halus atau sikat lunak jangan sampai merusak kulit.  Selanjutnya buah dibilas dengan air bersih, dikeringkan menggunakan lap lunak dan bersih atau ditiriskan.
3. Pemutuan
Pemutuan atau grading dilakukan setelah sortasi dan pencucian untuk mengelompokan buah berdasarkan mutu yaitu, ukuran, berat, warna, bentuk, tekstur, dan kebebasan buah dari kotoran atau bahan asing. Peranan penerintah tidak hanya terbatas pada bidang pemasaran saja. Tetapi yang paling penting ialah penetapan standarisasi buah, yang mencakup kualitas buah. Sehubumgan dengan standarisasi buah tersebut, Standar Nasional Indonesia (SNI) menggolongkan buah jeruk kedalam 4 kelas berdasarkan bobot atau diameter buah (Tabel 1).
Tabel 1.  Kriteria Jeruk Keprok, termasuk Jeruk Siam (SNI  01-3165-1992)
KelasBobot (g)Diameter (cm)
A≥ 151≥ 71
B101 – 15061 -70
C51 – 10051 -60
D≤ 5040 – 50
 
4. Pelilinan
Beberapaa jenis buah secara alami dilapisi oleh lilin yang berfungsi sebagai pelindung terhadap serangan fisik, mekanik, dan mikrobiologis. Pelapisan lilin pada buah-buahan sebenarnya adalah menggantikan dan menambah lapisan lilin alami yang terdapat pada buah yang sebagian besar hilang selama penanganan karena lapisan lilin yang menutupi pori-pori buah dapat menekan respirasi dan transpirasi sehingga daya simpan buah lebih lama dan nilai jualnya lebih baik.  Manfaat lainnya adalah meningkatkan kilau dan menutupi luka atau goresan pada permukaan kulit buah sehingga penampilannya menjadi lebih baik. 
Pelilinan terhadap buah jeruk segar pertama kali dikenal sejak abad 12-13 oleh bangsa Cina, tetapi pada saat itu tanpa memperhatikan adanya efek-efek respirasi dan tranpirasi sehingga lapisan lilin yang terbentuk terlalu tebal, mengakibatkan respirasi anaerob (fermentasi) dan menghasilkan jeruk yang masam dan busuk. Oleh karena itu, pelilinan harus diupayakan agar pori-pori kulit buah tidak tertutupi sama sekali agar tidak terjadi kondisi anaerob di dalam buah.  Sebaliknya, jika lapisan lilin terlalu tipis hasilnya kurang efektif mengurangi laju respirasi dan transpirasi.  Dibandingkan dengan pendinginan. aplikasi lilin kurang efektif dalam menurunkan laju respirasi sehingga pelilinan banyak dilakukan untuk melengkapi penyipanan dalam suhu dingin.
Lilin yang digunakan dapat berasal dari berbagai sumber seperti tanaman, hewan, mineral maupun sintetis. Kebanyakan formula lilin dipersiapkan dengan satu atau lebih bahan seprti beeswax, parafin wax, carnauba wax (secara alami didapat dari carnauba palm) dan shellac (lilin dari insekta).         Syarat lilin yang digunakan : tidak mempengaruhi bau dan rasa buah, cepat kering, tidak lengket, tidak mudah pecah, mengkilap dan licin, tipis, tidak mengandung racun, harga murah dan mudah diperoleh. Syarat komoditi yang dilapisi adalah segar (baru dipanen) dan bersih, sehat (tidak terserang hama/penyakit), dan ketuaan cukup. Lilin yang banyak digunakan adalah lilin lebah yang diemulsikan dengan konsentrasi 4 – 12%. Air yang digunakan tidak boleh menggunakan air sadah karena garam-garam yang terkandung dalam air tersebut dapat merusak emulsi lilin.  Aplkasinya dapat dilakukan dengan, penyemprotan, pencelupan, atau pengolesan.
Untuk membuat emulsi lilin standar 12 % diperlukan lilin lebah 120 g, asam oleat 20 g, triethanol amin (TEA) 40 g dan air panas 820 cc. Lilin dipanaskan dalam panci sampai mencair, kemudian dimasukkan dalam blender. Selanjutnya dituang sedikit demi sedikit asam oleat, TEA dan air panas, larutan diblender 2-5 menit agar tercampur dengan sempurna kemudian emulsi lilin didinginkan. Emulsi lilin dapat digunakan setelah proses pendinginan selesai dilaksanakan.
Sebenarnya pelilinan buah-buahan itu tidak mengandung racun karena menggunakan lilin lebah dan konsentrasinya pelilinannya sedikit sekali. Yang paling dikuatirkan buah-buahan itu rawan kandungan pestisida kemudian terlapisi lilin sehingga pestisidanya masih menempel pada buah. Kandungan pestisida inilah yang sangat berbahaya bila sampai termakan, bisa menyebabkan banyak penyakit diantaranya kanker, leukimia, tumor, neoplasma indung telur dll.
5. Labeling dan Pengemasan
 
Pengemasan buah bertujuan melindungi buah dari luka, memudahkan pengelolaan (penyimpanann, pengangkutan, distribusi), mempertahankan mutu, mempermudah perlakuan khusus, dan memberikan estetika yang menarik konsumen.  Kemasan dan lebel jeruk perlu di desain sebaik mungkin baik warna dan dekorasinya karena kemasan yang bagus dapat menjadi daya daya tarik bagi konsumen.
 
Bila jeruk akan dikirim keluar kota, buah jeruk yang diangkut dengan peti akan lebih aman dari pada dengan keranjang bambu atau karung karena keranjang atau karung tidak dapat meredam goncangan selama penggangkutan.

Peti jeruk harus di paku kuat-kuat, bagian ujung dan tengah-tengahnya diikat tali kawat atau bahan pengikat kain yang kuat. Bahan peti dipilih yang ringan dan murah misalnya kayu senggon laut (albazia falcata) atau kayu pinus. Bentuk peti disesuaikan dengan bak angkutan, disarankan persegi panjang (60 x 30 x 30 cm) atau bujur sanggkar (30 x 30 x 30 cm), tebal papan 0,5 cm, lebar 8 cm, jarak antar 1,5 cm agar udara di dalam peti tidak lembab tetapi juga tidak terlalu panas. Bobot maksimal setiap peti sebaiknya tidak melebihi 30 kg.  Buah jeruk lebih baik jika dibungkus dengan kertas tissue (potongan/sobekan kertas) kemudian peti diberi tanda diantaranya yaitu nama barang, jumlah buah setiap peti, berat peti dan jeruk, kualitas, tanda merek dagang, daerah/negara asal.
6. Penyimpanan
 
Penyimpanan buah jeruk bertujuan : memperpanjang kegunaan, menampung hasil panen yang melimpah, menyediakan buah jeruk sepanjang tahun, membantu pengaturan pemasaran, meningkatkan keuntungan financial,  mempertahankan kualitas jeruk yang disimpan.  Prinsip dari perlakuan penyimpanan : mengendalikan laju respirasi dan transpirasi, mengendalikan atau mencegah penyakit dan perubahan-perubahan yang tidak dikehendaki oleh konsumen.
Penyimpanan di ruang dingin dapat mengurangi aktivitas respirasi dan metabolisme, pelunakan, kehilangan air dan pelayuan, kerusakan karena aktivitas mikroba (bakteri, kapang/cendawan). Jeruk yang disimpan hendaknya bebas dari lecet kulit, memar, busuk dan kerusakan lainnya. Untuk mendapatkan hasil yang baik, suhu ruang penyimpanan dijaga agar stabil. Suhu optimum untuk penyimpanan buah jeruk adalah 5 – 10oC. Jika suhu terlalu rendah dapat menyebabkan kerusakan buah (chiling injury).  
Jika kelembaban rendah akan terjadi pelayuan atau pengkeriputan dan jika terlalu tinggi akan merangsang proses pembusukan, terutama apabila ada variasi suhu dalam ruangan. Kelembaban nisbi antara 85-90% diperlukan untuk menghindari pelayuan dan pelunakan pada beberapa jenis sayuran. Beberapa produk bahkan memerlukan kelembaban sekitar 90-95%. Kelembaban udara dalam ruangan pendinginan dapat dipertinggi antara lain dengan cara menyemprot lantai dengan air. Kelembaban yang tepat akan menjamin tingkat keamanan bahan yang disimpan terhadap pertumbuhan mikroba. Sirkulasi udara diperlukan secukupnya untuk membuang panas yang berasal dari hasil respirasi atau panas yang masuk dari luar.
Sumber : http://yusufsila-tumbuhan.blogspot.com/2011/07/penanganan-panen-dan-pasca-panen-buah.html
 

Jeruk Lokal Segera Diproteksi

Jeruk Lokal Segera Diproteksi

BANYUWANGI – Guna meningkatkan kesejahteraan para petani jeruk di wilayahnya, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi segera melakukan langkah konkrit yang pro petani. Yakni akan mengeluarkan Peraturan Bupati agar semua acara yang digelar pemerintah daerah yang menyajikan buah jeruk wajib menggunakan jeruk lokal.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menjelaskan bahwa langkah proteksi ini untuk melindungi  para petani buah lokal kita dari serbuan buah-buahan impor yang mulai membanjiri pasar dalam negeri. “Untuk buah-buahan kita akan segera proteksi buah rakyat. Kita akan siapkan perbup agar seluruh acara  pemerintah daerah, camat maupun lurah tidak boleh membeli jeruk impor.

Parsel-parsel yang biasanya untuk orang sakit harus pake jeruk lokal, tidak boleh pake buah impor. Insyallah, jeruk Banyuwangi akan laku semua,” tegas Bupati Anas saat melaunching Gerakan 10.000 Kolam Pekarangan, Selasa (8/5). Bupati  pun bertekad bahwa hal ini akan dijadikan sebagai gerakan rakyat.

Jeruk Banyuwangi merupakan jenis jeruk siam, dengan produksi pada tahun 2011 mencapai 103.268 ton, meningkat dibanding tahun 2010 lalu yang sebesar 78.853,9 Ha. Luasan lahan panen keseluruhan mencapai 36.616,8 Ha yang tersebar di Kec. Bangorejo, Tegaldlimo, Purwoharjo, Cluring, Pesanggaran, Siliragung, dan Muncar.

Langkah Bupati ini mendapat tanggapan positif dari pedagang jeruk yang ada di Banyuwangi.  Sulaiman, pedagang jeruk yang mangkal di Perempatan Untag Banyuwangi menyatakan bahwa dirinya senang dengan langkah Bupati yang akan menggalakkan konsumsi jeruk lokal. Sulaiman yang berjualan jeruk impor asal Cina selain jeruk lokal menuturkan bahwa konsumennya lebih mencari jeruk lokal Banyuwangi. “Banyak yang beli jeruk lokal karena rasanya lebih segar dan airnya banyak dibanding jeruk yang kuning-kuning tersebut,” ujar Sulaiman. (HUMAS PROTOKOL)

Sumber : http://www.banyuwangikab.go.id/berita-daerah/jeruk-lokal-segera-diproteksi.html