...Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H.... Mohon maaf lahir dan batin...

Kamis, 31 Mei 2012

BUDIDAYA JERUK : KIAT KEBERHASILAN USAHA TANI JERUK

BUDIDAYA JERUK

 oleh : M


KIAT KEBERHASILAN USAHA TANI JERUK

Jeruk merupakan salah satu jenis komoditas hortikultura yang banyak disukai masyarakat. Sebagai bahan pelengkap utama dalam penunjang gizi keluarga, rasanya segar dan banyak mengandung vitamin C dan vitamin A. Karena banyak disukai dan pemasarannya cukup baik, maka upaya pengembangan jeruk ini menjanjikan keuntungan bagi petani.

Tanaman jeruk termasuk tanaman yang peka terhadap penyakit, dan daerah-daerah sentra produksi jeruk di Indonesia pernah mengalami kegoncangan dengan adanya serangan hama CVPD. Usahatani merehabilitasi jeruk ini telah dilakukan, baik secara swadaya petani maupun dengan bantuan dana stimulasi dari dana proyek.

Kunci keberhasilan dalam merehabilitasi usahatani jeruk terletak pada ketetapan pemilihan bibit. Bibit yang digunakan harus bibit yang baik dan bebas penyakit yang berasal dari perbanyakan klonal tunggal.

Syarat bibit Jeruk yang baik adalah sebagai berikut:
1. Tidak mengandung penyakit atau bebas CVPD
2. Berasal dari penangkaran yang dikontrol oleh petugas BPSB dan entresnya dari BPMT jeruk.
3. Pertumbuhan visualnya baik dan subur serta sehat.
4. Berasal dari batang atas yang mempunyai produksi tinggi dan batang bawah dengan perakaran luas dan kuat.

Bibit sebagai cikal bakal tanaman sangat menentukan tingkat keberhasilan usahatni jeruk. Penggunaan bibit yang bermutu memberikan peluang untuk keberhasilan budidaya jeruk.
Kesalahan dalam pemilihan bibit, dampaknya akan terlihat setelah selang beberapa waktu. Dampaknya akan dirasakan oleh baik petani itu sendiri maupun bagi masyarakat disekitarnya yang berusaha tani jeruk. Bibit jeruk bebas penyakit yang dibudidayakan akan memberikan hasil sesuai dengan yang diinginkan jika kondisi lingkungan yang diinginkannya terpenuhi.

Kondisi lingkungan yang diinginkan diperoleh dengan cara:
* Pengaturan jarak tanam
* Pemupukan
* Pengairan dan Pengendalian gulma
* Pemangkasan
* serta Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengaturan Jarak Tanam

Jarak tanam diatur agar cahaya cukup tersedia bagi pertumbuhan tanaman dan tidak terjadi kompetisi dalam mendapatkan cahaya matahari dan unsur hara tanaman.

Jarak tanam rapat akhir-akhir ini dianjurkan karena jeruk telah berproduksi pada umur 3-4 tahun, saat ini tajuk belum maksimum. Menjelang tajuk maksimum umur 10 thn tanaman dapat menghasilkan 5-6 X panen secara penuh. Dengan cara demikian produksinya akan lebih tinggi dan keuntungan akan lebih banyak. Jarak tanam yang dianjurkan 5X5 m, 4X4 m, atau 4X5 m.

Pemupukan

Pemupukan sangat perlu dilakukan karena kemampuan tanah dalam menyediakan unsur hara bagi tanaman terbatas, dan pada setia periode umur tanaman jeruk banyak menguras ketersediaan hara tanah.

Jarak jeruk membutuhkan pupuk organik (pupuk kandang/kompos) dan pupuk anorganik (urea, TSP, dan KCL). Pupuk organik dibutuhkan untuk meningkatkan humus didalam tanah sehingga tanah yang padat dapat diubah menjadi remah/gembur. Sedangkan pupuk anorganik diperlukan untuk menambah unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Dosis dan jenis pupuk yang digunakan dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel. Dosis pemupukan anjutran sementara tanaman jeruk
 



Waktu dan Cara Pemberian

Untuk tanaman yang belum berbuah, pemupukan dilakukan 2 X setahun pada awal akhir musim hujan, masing-masing 1/2 dosis yang ditentukan. Sedang untuk tanaman yang sudah berbuah pemupukan dilakukan 3 X setahun.

Pemupukan pertama dilakukan sebelum bunga muncul, sebanyak 2/5 bagian dari dosis pertahunnya. Pemupukan kedua pada saat pemasakan buah sebanyak 1/5 bagian. Sisanya diberikan pada pemupukan ketiga, beberapa saat setelah panen.

Penyiangan dan Perbaikan Drainase Kebun

Penyiangan gulma disekitar pokok tanaman dan gulma epipit yang sering menumpang pada tanaman dilakukan secara berkala. Pekerjaan ini sebaiknya dilakukan secara manual dengan sangat hati-hati. Jika terlalu dalam penyiangan gulma disekililing pokok tanaman akan merusak perakaran dan jika kurang hati-hati mengendalikan epipit, tanaman akan patah dan terluka. Bagi kebun yang sering kelebihan air perlu diatur drainase pembuangan air, agar saat musim hujan kebun tidak tergenang, kalau sering tergenang akan mengakitkan berkembangnya cendawan akar dan gulma akan lebih panjang. Sealiknya kalau kebun berada pada daerah kering perlu dibantu dengan pemberian air melalui penyiraman parit-parit atau secara penyiraman langsung.

Pemangkasan, Penjarangan Buah

Pemangkasan dilakukan untuk membentuk pohon agar tumbuh simestris, tajuk yang tumbuh simestris dapat menangkap sinar matahari secara efisien.
Pemangkasan dilakukan sejak tanaman masih kecil agar pembentukan tajuk terarah dan terkendali, kemudian pemangkasn dilanjutkan lagi agar cabang-cabang tumbuh simetris.
Pemangkasan dilakukan untuk membuang tunas-tunas liar dan ranting-ranting yang tumbuh mengarah kedalam tajuk pohon. Disamping itu pemangkasan dimaksudkan untuk membuang ranting-ranting yang mati dan terserang penyakit, terutama sekali adanya gejala terserang CVPD.

Batasi pemangkasan untuk tujuan-tujuan tertentu saja. Pemangkasan yang tidak perlu benar janga dilakukan, karena akan melemahkan pohon. Setiap luka bekas pemangkasan sebaiknya diolesi dengan cat agar air bersama spora cendawan tidak mudah meresap kedalam tanaman.
Buah pertama sebaiknya dibuang. jika ingin memelihara sebaiknya cukup 40% saja. Pembuangan buah pertama ini dimaksudkan untuk mempersiapkan pohon agar benar-benar kuat pada musim berikutnya . Tanaman muda yang dibiarkan berbuah lebat akan menjadi lemah sehingga akan mudah terserang hama dan penyakit.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama dan penyakit merupakan salah satu kendala utama dalam peningkatan produksi jeruk baik kualitas maupun kuantitas. Pengendalian terhadap serangan hama dan penyakit mutlak diperlukan untuk menekan kerusakan dan kerugian yang ditimbulkannya.
Strategi pengendalian dan pengelolaan hama dan penyakit tanaman jeruk yang tepat perlu diterapkan baik pada pembibitan dan tanaman dewasa dilapangan.

Bibit bebas penyakit yang dibudidayakan bukanlah berarti bibit yang tahan terhadap penyakit. Kondisi lingkungan dimana bibit ini dibudidayakan sangat mempengaruhi bibit ini untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Untuk itu upaya pengendalian hama dan penyakit mutlak dilakukan agar bibit yang bebas penyakit ini dapat berproduksi sesuai dengan yang diharapkan.

Pengenalan hama dan penyakit serta gejala serangannya adalah sangat penting untuk menentukan strategi pengendaliannya yang tepat. Kekeliruan identifikasi jenis OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) yang menyerang tanaman jeruk serta pengenalan gejala serangan berakit pada kekeliruan strategi pengendalian sehingga akan berdampak negatif.
Dalam melakukan identifikasi/pengenalan dan pengendalian hama dan penyakit jeruk, diharapkan petani dapat berkonsultasi dengan petugas dilapangan.

 http://www.deptan.go.id/teknologi/daerah/usahatani_jeruk.htm
Sumber : http://miftakhur.wordpress.com/2010/05/18/buku-warisan/

Jeruk Madu Karo Ungguli Kualitas Jeruk Impor

Jeruk Impor dari China

  
Jeruk Madu dari Karo
   
Jeruk Madu Karo Ungguli Kualitas Jeruk Impor


Written by Syahnan Harahap


Tahan Serangan Hama Lalat

Selain petani secara terus-menerus tidak aman dengan fluktuasi harga; dan hama lalat buah tanaman jeruk yang mulai berkembang sekitar tahun 2000, sampai kini terus merajalela membuat petani jeruk yang luasnya berkisar 12.000 ha harus mengeluarkan dana khusus untuk pembasmian hama lalat buah sebesar Rp90,7 milyar lebih/tahun. Bahkan petani kini mulai memasang jaring di sekeliling kebun jeruk untuk mengantisipasi agar hama lalat buah tidak masuk ke kebun dan merusak buah.

Nyatanya itu tidak aman. Bahkan petani meningkatkan pemasangan jaring di atas kebun mengingat perkembangan lalat buah tetap merusak buah meskipun jaring telah dipasang di sekeliling kebun.
Atensi pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam penanganan penanggulangan hama lalat buah tersebut direspon baik dan telah dilaksanakan. Mantan Menteri Pertanian RI, DR Bungaran Saragih bersama Bupati Karo (saat itu) Sinar Perangin-angin tahun 2002 telah melakukan penanggulangan perdana di desa Dokan Kecamatan Merek.

Namun, mindset (pola pikir) masing-masing petani belum berubah, hama lalat buah semakin mengganas dan berkembang pesat sehingga semakin sulit dibasmi. Petani tidak sadar dan seakan tidak habis pikir menanggulanginya. Secara pribadi-pribadi petani jeruk mulai memasang jaring serangga dibentang mengelilingi kebun jeruk dan tingginya berkisar 4 meter sampai 6 meter untuk menghalangi hama lalat buah atau serangga tidak masuk ke kebun jeruk.

Inovasi dan gagasan petani ini memang selintas dapat dikagumi. Pemasangan jaring yang menelan biaya Rp25 juta sampai Rp40 juta/ha, ternyata bukan solusi terbaik dan permanen. Tapi seakan bagai kiasan “akal diilmui” dan bukan “ilmu diakali”. Pemasangan jaringan di sekeliling kebun jeruk selain membatasi proses penyerbukan buah oleh serangga-serangga, justru sebagai tempat perkembangbiakan lalat buah yang “terkurung” .

Selain diperlukan gerakan massal mengatasi serangan lalat buah secara serentak dan reguler (terus-menerus) bersama petani, PPL dan pihak penyuluh Dinas Pertanian-Perkebunan dan Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Peternakan dan Kehutanan (BP4K) Pemkab Karo, juga dibutuhkan bibit faritas baru jeruk yang dapat diminimalisir beragam serangan hama, khususnya lalat buah dan memiliki nilai jual dan pangsa pasar ekspor.

"Jeruk madu merupakan solusi yang terbaik dan tidak spekulatif dan tidak harus mengeluarkan cost besar, tapi hadir sebagai solusi dengan merotasi tanaman (jenis jeruk yang lain-red) untuk mencegah serangan atau pengembangbiakan hama lalat buah yang selama ini telah “menguasai” tanaman jeruk jenis jeruk siam," tegas Segel Tarigan.

Menurut Tarigan, yang mengaku pernah mewakili petani jeruk Sumatera Utara tahun 2005 silam mengikuti studi banding pembuatan pupuk organik yang diselenggarakan  Japan Internasional Cooperation Agency (JICA) di Malangke, Sulawesi Selatan, Tebas-Pontianak, Kalimantan Barat, Magetan dan Batumalang, Jawa Timur, pengembangan jeruk madu  dipadu dengan pemupukan organik, cukup berpeluang membuka pasar ekspor dan nilai jual yang cukup tinggi.

Studi banding yang sangat bermanfaat tersebut diakhiri “tour” bersama meninjau pasar dan sistem pemasaran berbagai komoditi sayur-mayur dan hortikultura ke Jepang, Thailand dan Kualalumpur. Jauh beda dengan studi banding DPRD Karo ke berbagai daerah serta luar negeri yang tidak pernah dirasakan petani manfaatnya.

“Saat itu juga digagasi MoU bidang pemasaran jeruk wilayah Sumatera Utara, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Barat untuk pemasaran ke Pulau Jawa. Namun tidak didukung dengan berbagai pertimbangan yang belum transparansi dari Pemprovsu saat itu. Termasuk pembahasan kemasan industri hulu dan hilir yang pemahamannya masih disepelekan pihak eksportir,” tuturnya.

Menyikapi hal itu, Pemkab Karo merasa perlu sebuah terobosan untuk mendorong perbaikan ekonomi petani Karo. Mengubah sistim pertanian konvensional menjadi sistim pertanian dengan keterpaduan tanaman dan ternak dianggap mampu meningkatkan produktivitas ternak/tanaman serta income petani. Itulah yang melatar belakangi, Pemkab Karo meluncurkan “Program keseriusan sinergis pola pengembangan tanaman dan ternak” bekerjasama dengan pihak perbankan belum lama ini dilaunching Bupati Karo, DR (HC) Kena Ukur Karo Jambi Surbakti.

Menurut Bupati Karo, “sektor pertanian merupakan leading sector dalam pembangunan ekonomi Kabupaten Karo. Hambatan, tantangan dan peluang di sektor pertanian sekarang ini sesegera mungkin disikapi pemerintah dengan sebuah kebijakan dan program yang implementatif,”ujarnya.

Laporan : Robert Tarigan (Wartawan andalas di Kabanjahe)



Sumber : http://harianandalas.com/index.php?/Sumatera-Utara/jeruk-madu-karo-ungguli-kualitas-jeruk-impor.html
 

Jeruk Lokal vs Jeruk Impor, Potret Jeruk Indonesia


Jeruk Lokal vs Jeruk Impor, Potret Jeruk Indonesia

Ibarat banjir bandang, begitulah jeruk impor menyerbu tanah air. Enam tahun silam ponkan dan tankan asal taiwan yang menantang jeruk dalam negeri. Kini, nama para pendatang itu kian banyak: sekadar contoh lokam, santang, kimkit, dan unshui. Di tengah serbuan mereka frimong produksi kebun yang tersebar di jawa barat mulai unjuk gigi. Jeruk asli australia itu mulai bersaing dengan para pendatang baru berkat rutinitas panen.



Bagai David melawan Goliath, frimong dari sebuah kebun di Tapos, Kabupaten Bogor, masuk ke pasar swalayan dan toko buah modern di Jakarta setiap 2 – 3 hari. ‘Seminggu rata-rata dipetik 3 ton frimong. Kami kewalahan melayani pembeli,’ kata I Made Soewecha, pengelola kebun Tapos. Di kebun itu jeruk kualitas AB (sekilo isi 8 – 10 buah) dibandrol Rp10.000 – Rp12.000 per kg.

Pasokan itu memang masih sangat sedikit dibanding devisa yang keluar untuk mendatangkan jeruk. Pada 2007 tercatat kedatangan 118.808 ton jeruk senilai U$83,16-juta setara Rp831,6-miliar. Sejumlah 80% jeruk itu berasal dari China. Pengiriman tertinggi dari negara Tirai Bambu itu berlangsung pada Januari – Maret dengan volume di atas 10.000 ton. Sisanya dipasok 16 negara lain seperti Thailand, Argentina, Pakistan, dan Australia.

Frimong sanggup bersaing dengan jeruk impor lantaran kulit buahnya jingga merata dengan rasa manis asam, mirip yang impor. Menurut Ir A Widodo Heru MSc, kepala seksi Teknologi Tanaman Perdu, Direktorat Budidaya Tanaman Buah Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian, karakter frimong unik: berbuah umur 1,8 tahun dan bisa panen sepanjang tahun. Karakternya mirip siam yang berbuah tanpa musim, padahal frimong termasuk kelompok jeruk keprok Citrus reticulata.
Sebelum era frimong, jeruk impor hanya bersaing dengan jeruk siam Citrus nobilis yang mendominasi 80% produksi jeruk nasional. Penampilan siam yang berkulit hijau, berbiji banyak, dan sulit dikupas tentu saja asor daripada keprok berkulit kuning, minim biji, dan mudah dibuka.

Meskipun jumlah jeruk impor itu hanya 4,6% ketimbang produksi jeruk nasional yang mencapai 2,5-juta ton per tahun, ‘Mereka terlihat dominan karena dipajang di pasar swalayan dan pasar buah modern,’ papar Ir Winny Dian Wibawa MSc, direktur Direktorat Budidaya Tanaman Buah, Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian RI.

Adaptif

Ir Arry Supriyanto MS, kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), Kalimantan Barat, mengatakan di antara jeruk impor yang masuk ke Indonesia, frimong tergolong adaptif tumbuh di Indonesia. Tanpa perlakuan khusus – di dataran tinggi – warna jingga yang seragam keluar. ‘Diduga ia silangan keprok dengan jeruk manis,’ tutur mantan kepala Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) itu.

Nun di Lembang, Kabupaten Bandung, ada Barokah dan Dedi Mulyana yang mengikuti jejak Made. Barokah digaet seorang kepala rumahsakit swasta di Bandung menanam 1.500 frimong di lahan seluas 2 ha pada April 2004. Tiga tahun berselang, pada 2007 – 2008, ayah 3 anak itu memanen 30 ton frimong. Itu hasil panen 2,5 ton per minggu saat panen raya Mei dan Juni, ditambah panen 250 kg per minggu di luar musim. ‘Periode 2008 – 2009 jumlah panen meningkat 37 ton per tahun,’ kata Barokah.

Sedangkan Dedi membuka kebun frimong seluas 3,5 ha. Di lahan di ketinggian 1.100 m dpl itu Dedi menanam 2.400 frimong dengan jarak tanam 3 m x 5 m pada Januari 2005. Panen perdana pada April 2008 dipetik 12 ton. Pada 2009 hingga akhir tahun diperkirakan dipanen 20 ton. Semua hasil panen diboyong rekan Dedi yang memiliki jaringan toko buah di Jakarta.

Sudah menancap

Jeruk introduksi lain pun sebetulnya mulai dikebunkan. Sebut saja Sutjipto Gunawan di Batu, Jawa Timur, yang mengebunkan jeruk conmune asal Eropa. Dari 600 tanaman yang ditanam pada 2002 setiap tahun dipanen 45 kg per pohon. Bedanya conmune tak serajin frimong yang bisa dipanen sepanjang tahun. ‘Paling banter setahun dipanen 3 bulan,’ kata Sutjipto. Conmune dipetik pada Mei, Juni, dan Juli.

Menurut Rahmat Hartono SPMP, staf pengajar ekonomi pertanian di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang, maraknya pekebun lokal menanam jeruk introduksi dapat dipahami. ‘Brand jeruk impor sudah menancap di konsumen sehingga mereka kelak tak kesulitan memasarkan hasil kebun. Persoalannya, mereka hanya mampu menembus pasar bila kualitas rasa dan penampilan setara dengan jeruk impor,’ tutur Rahmat.

Itu seperti kasus durian monthong atau mangga introduksi – chokanan dan erwin – yang kini marak dikebunkan dan dipasarkan dengan label impor. Buktinya dengan kualitas setara impor, hasil kebun mereka bisa diterima dan diakui pasar lebih segar. Toh, menurut Rahmat, pekebun yang berniat mengebunkan jeruk introduksi mesti bersiap berspekulasi. ‘Tak semua jeruk introduksi cocok dikebunkan di tanahair. Butuh trial and error dengan biaya lebih tinggi,’ ujar master pemasaran pertanian dari Universitas Brawijaya itu.

Keprok lokal

Sebetulnya tak hanya frimong yang berpeluang dikebunkan. Indonesia memiliki 18 keprok lokal yang keunggulannya sudah diakui secara nasional. ‘Sebanyak 90% jeruk yang diimpor tergolong jeruk mandarin alias keprok. Karena itu hanya keprok yang bisa menyaingi jeruk introduksi di pasar swalayan,’ tutur Winny. Jeruk siam tak bisa diandalkan menyaingi jeruk impor karena rasa dan penampilannya beda. Lagipula bagi pekebun kurang menarik sebab harganya jatuh, di bawah Rp3.500 per kg di tingkat pekebun.

Sebut saja keprok garut, batu 55, gayo, dan soe. Yang paling top keprok soe asal Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT). Keprok asal ketinggian 800 – 1.200 m dpl itu warnanya secara alami ngejreng: jingga mengkilap dan seragam. Jauh lebih menarik ketimbang jeruk impor. Rasanya manis dan segar.

‘Bila kualitas keprok bisa seragam dan pasokan kontinu, pasar modern siap menerima keprok. Kami betul-betul kekurangan buah lokal,’ tutur Zoilus Sitepu, national specialist for fruit and vegetable Hypermart. Dari total buah impor yang masuk ke Indonesia, jeruk berada di posisi ke-2 (30%) di bawah apel yang mencapai 50%. Artinya, serapan jeruk benar-benar besar. Sayang, soe belum dikebunkan secara komersial. Ia masih ditanam secara tradisional di pekarangan warga.

Garut

Yang sudah ramai dikebunkan sejak 7 tahun terakhir ialah keprok garut dan batu 55. Di Samarang, Garut, Jawa Barat, ada H Entang Syahid – bersama anggota kelompok tani – yang mengebunkan 8 ha keprok garut. Lahan pribadi Entang hanya 0,5 ha. ‘Kami tanam keprok karena harganya 2 – 3 kali lipat ketimbang siam,’ kata pensiunan pegawai Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Kabupaten Garut itu. Harga siam grade AB (sekilo isi 8 – 10 buah) hanya Rp3.500 per kg.

Sedangkan keprok grade AB (sekilo isi 6 – 8 buah) hampir 3 kali lipat, Rp12.000 – Rp13.000 per kg.
Masih di Samarang, H Azizi menanam 500 keprok garut 5 tahun silam. Itu untuk mengganti 200 keprok miliknya yang sudah tak produktif. Garut pada tahun 1960-an memang dikenal sebagai salah satu sentra keprok. Dari lahan itu di tahun ke-3 Azizi memanen 3 ton; tahun ke-4, 4 ton; dan pada 2009 hingga Juni dipetik 5 ton.

Menurut Winny, pengembangan keprok garut menjadi percontohan program keprokisasi di tanahair yang penanamannya dimulai 2009. ‘Kami menyeleksi tanaman jeruk yang masih bertahan dari serangan Citrus Vein Phloem Degeneration (CPVD). Mencari yang kualitasnya unggul, lalu membersihkannya (dengan teknik indeksing, red) dan menyebarkan lagi secara terkontrol ke calon pekebun,’ ujar master ilmu tanah dari Nort Dakota State University, Amerika Serikat. Pada 2008 jumlah tegakan jeruk di Garut mencapai 542.092 tanaman atau 2 kali lipat ketimbang 2003 yang hanya 252.718 tanaman.

Batu 55

Contoh lain keprokisasi di Jawa Timur ialah batu 55. Direncanakan penanaman batu 55 di Batu seluas 40 ha dan di Malang seluas 50 ha. Penanaman batu 55 itu bakal dimulai pada Desember 2009. ‘Itu untuk mengembalikan kejayaan keprok di Batu,’ kata Agus Sugiyatno, peneliti Balitjestro.

Di Malang keprokisasi dilakukan dengan 2 cara: penanaman baru dan topworking. ‘Pada 1987 banyak sentra tembakau yang beralih ke jeruk manis baby pacitan. Namun, kini harga jeruk manis melorot hanya Rp3.000 per kg. Itulah yang banyak ditopworking,’ kata Heri Yulianto, pegawai penyuluh pertanian di Kabupaten Malang. Yang melakukannya sebut saja Gunawan SE. Alumnus Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang itu menebang 2.000 jeruk manis dan menempelkan mata tunas batu 55 pada 2005. ‘Dengan topworking bisa memangkas waktu panen lebih cepat,’ katanya. Pada umur 2 tahun batu 55 asal topworking sudah berproduksi 20 kg per tanaman. Tahun ke-5 diprediksi produksinya 30 kg.

Menurut Gunawan, batu 55 dipetik pada Mei hingga Agustus 2009. Dari luasan itu ia memetik 40 ton dengan komposisi 30% grade A (sekilo isi 5 – 6 buah), 60% grade B (7 – 8 buah), dan 10% grade C (8 – 10 buah). Harga buah kualitas A di kebun Rp13.500; B, Rp12.500; dan C, Rp11.500 per kg. Dari batu 55 minimal Gunawan meraup omzet Rp460-juta per tahun.

Di luar 18 keprok yang sudah dilepas Departemen Pertanian sebetulnya ada 2 keprok lain yang potensial dikebunkan. Yang pertama keprok lebong yang baru muncul di Pekan Flora dan Flori 2009 di Tangerang. Jeruk hasil panen Estranto Ginting di Rejanglebong, Bengkulu, itu luar biasa. Sosoknya besar-besar. Sekilo isi 3 untuk grade A; isi 3 – 4 grade B; isi 4 – 5 grade C; dan sekilo isi 5 – 7 grade D.

Sosoknya yang di luar ukuran rata-rata itu membuat keprok lebong dibandrol tinggi di kebun. ‘Kami jual langsung ke end user Rp35.000 per kg untuk grade A. Yang termurah grade D laku Rp20.000 per kg,’ tutur pria yang bergelut di disitributor buah-buahan itu. Dari lahan seluas 6 ha – populasi 2.000 tanaman – di ketinggian 700 m dpl itu Ginting memanen rata-rata 200 kg per hari. Buah bisa dipanen hampir sepanjang tahun karena keprok lebong punya karakter khas: buah yang matang 9 bulan dari muncul bunga masih bisa bertahan hingga 14 bulan.

Keprok baru lain yang potensial dikebunkan dan perlu diselamatkan ialah keprok jepara yang tumbuh di dataran rendah kurang dari 400 m dpl. Ia istimewa karena meski dari dataran rendah warna kulitnya kuning mengkilap. (baca: Lebih Banyak Pilihan untuk Dataran Rendah, hal 34 – 35).

Jalan berliku

Tertarik mengebunkan jeruk introduksi atau keprok? Bersiaplah melewati jalan penuh kerikil nan tajam. Sukses Made Soewecha dan Nyoman Sukarata memanen frimong 2 tahun belakangan berawal dari pahit yang dirasakan pada 1992. ‘Ketika itu kami menanam 1.000 frimong. Semuanya hancur, jangankan berbuah, untuk tumbuh saja tak bisa. Kami rugi uang dan waktu,’ tutur Made.

Diduga akar frimong tak mampu tumbuh di lahan dengan lubang tanam hanya berukuran 40 cm x 40 cm x 40 cm. ‘Tanah di luar lubang tanam terlalu keras sehingga akar tanaman tak bisa menembus tanah,’ kata Made. Keduanya urung menanam frimong dan beralih ke jeruk manis. Frimong baru ditanam 13 tahun kemudian setelah harga jeruk manis melorot.

Di Lembang, sebuah kebun seluas 10 ha yang ditanam frimong 8 tahun silam, kering kerontang hingga saat ini. Diduga pemupukan kimia yang terlalu intensif membuat tanah menjadi keras. Di Cianjur, kebun frimong yang dibuka 7 tahun silam seluas 150 ha tak lagi terdengar beritanya. Frimong dari kebun itu kering tak berair. Kulit buah tebal dan keriput.

Bertanam keprok lokal pun bukan berarti mudah. Tajib, di Kecamatan Jenangan, Ponorogo, mencoba mengembalikan kejayaan keprok pulung dengan menanam 300 tanaman pada 2006. Tahun lalu ia hanya memanen 8 kg per pohon. ‘Produktivitas rendah karena tanahnya tandus dan berpasir,’ kata ketua Kelompok Tani Saribumi itu. Tajib mencatat pada 1997 pernah dilakukan penanaman keprok pulung seluas 42 ha yang diikuti 110 pekebun. Namun, hanya 15% yang bertahan.

Toh, menurut Winny, beragam kendala yang ditemui pekebun dalam mengembangkan keprok mesti dijadikan tantangan untuk memperbaiki teknologi budidaya. ‘Dengan standar prosedur operasional (SPO) yang ketat, mengebunkan jeruk untuk substitusi impor bukan mimpi di siang bolong,’ tutur Winny. Kelak pada 201, diharapkan luasan dan produksi keprok bisa mencapai 15% – kini8% – dari total luasan jeruk di tanahair. Di gerai-gerai pasar swalayan pun jeruk hasil pekebun lokal bisa bersanding dengan bangga bersama jeruk impor.

(Sumber TRUBUS Edisi Oktober 2009)

Sumber : http://kpricitrus.wordpress.com/2011/12/24/jeruk-lokal-vs-jeruk-impor-potret-jeruk-indonesia/

JERUK IMPOR PUKUL JERUK LOKAL

 





JERUK IMPOR PUKUL JERUK LOKAL


Masuknya jeruk impor asal China yang kian merajai pasar membuat petani jeruk di Desa Namorambe, Berastagi menjerit. Bagaimana tidak, pendapatan petani pada musim panen kali ini berkurang lantaran harga jeruk madu anjlok karena masuknya buah impor tersebut.

“Masuknya jeruk impor tersebut membuat harga jeruk madu lokal anjlok karena sebagian besar jeruk impor harganya lebih murah,” kata P Damanik, petani jeruk di Desa Namorambe kepada MedanBisnis, Rabu (22/2).

Murahnya jeruk impor yang masuk ke Sumut menyebabkan petani jeruk terpaksa menurunkan harga agar jeruk madu lokal tetap laku di pasaran. Dikatakannya, saat ini, petani melepas jeruk kepada pengumpul pada kisaran harga Rp4.000 hingga Rp5.000 per kg. Padahal, biasanya petani melepas jeruk pada kisaran harga Rp6.000 hingga Rp8.000 per kg.

Dengan murahnya harga jeruk tersebut, kata dia, pendapatan petani di sana menurun cukup signifikan. Bahkan penurunan pendapatan mencapai lebih dari 40% jika dibanding dengan masa panen sebelumnya pada Juni 2011 lalu. Dia mengakui saat ini petani jeruk di sana sedang memasuki masa panen besar sejak November 2011 lalu, di mana dalam sepekan setiap petani di sana rata-rata bisa memanen lebih dari 500 kg jeruk.

Pada tingkat pedagang di Berastagi, dikatakan, saat ini jeruk madu dijual pada kisaran harga Rp10.000 per kg. Begitupun, kata Damanik, pihaknya paling banyak memasok jeruk kepada sejumlah pedagang dari luar Berastagi, seperti Medan dan beberapa daerah lain. “Makanya kami tak terlalu mengandalkan penjualan di sini karena permintaan masih sedikit,” tambahnya.

Pantauan MedanBisnis di sejumlah pasar tradisional di Kota Medan, sebagian besar pedagang buah kebanyakan menjual jeruk impor yang didatangkan dari China dan Taiwan. Jeruk-jeruk tersebut dijual pada kisaran harga Rp12.00 per kg atau relatif lebih murah dibanding dengan jeruk madu lokal yang dipatok pada angka Rp15.000 per kg.

“Harga itu pun sudah mengalami penurunan dalam tiga bulan terakhir dimana saat itu jeruk madu lokal masih dijual pada kisaran harga Rp18.000 hingga Rp22.000 per kg,” kata Diana Sari, seorang pedagang buah di Pusat Pasar Medan.

Impor Melonjak

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumu mengungkapkan buah dan sayur impor di Sumatera Utara (Sumut) terus melonjak. Pada periode Januari hingga Desember 2011, komoditas hortikultura impor tersebut didominasi apel, bawang putih, pear, anggur, wortel, jamur, bayam, kacang kapri dan kentang.

Kasie Statistik Niaga dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Hafsyah Aprilia, mengatakan, nilai impor buah Sumut mengalami peningkatan dari US$ 37,899 juta dengan volume 42.299 ton pada periode Januari hingga Desember 2010 menjadi US$ 52,409 juta dengan volume 56.706 ton.

“Peningkatan ini didominasi impor buah apel dengan nilai US$ 17,730 juta dan volume 22.055 ton. Jumlah ini naik 16,32% dari periode yang sama tahun 2010 dengan nilai US$ 14,836 juta dengan volume 18.867 ton,” ujarnya.

Dia mengatakan, untuk buah-buahan impor yang banyak masuk ke Sumut seperti apel dari China dan Amerika Serikat, jagung manis dari Amerika Serikat, alpukat dari Malaysia, Israel dan Afrika Selatan (Afsel), komoditas jambu dari Thailand, mangga dari Taiwan, Thailand dan Afsel.

“Ada juga jeruk hibrid dalam bentuk segar dan kering yang berasal dari Taiwan, China, Mesir, Afrika Selatan, Australia, Amerika Serikat dan Argentina,” imbuh Hafsyah. Untuk jeruk, juga terus mengalami lonjakan dengan nilai US$ 6,613 juta dengan volume 7.457 ton.

Sementara untuk sayur impor yang paling banyak didatangkan ke Sumut yakni komoditas bawang merah, bawang putih, wortel, jamur, cabai, bayam, sayuran segar lainnya, kentang dan kacang kapri.

”Sayur-sayuran impor di Sumut tetap didominasi China dan Myanmar,” kata Hafsyah.

Ketua DPP Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sumut, Paulus Ronald Sinambela, mengatakan, masih banyaknya buah dan sayur impor yang masuk ke Indonesia khususnya Sumut menjadi tanggung jawab pemerintah.

“Banyak kendala yang dihadapi petani dalam meningkatkan produktivitas tanamannya, baik dari kebutuhan pupuk, bibit, hama, hingga masa panen,” ucapnya.

Menurutnya, pemerintah harus serius membantu petani agar komoditas pertanian yang masuk dari luar negeri tidak lagi membanjiri hingga membuat petani semakin terpuruk. Padahhal, beberapa daerah di Sumut merupakan sentra produksi pertanian khususnya hortikultura. (daniel pekuwali/elvidaris)

sumber: http://www.medanbisnisdaily.com
Sumber : http://www.sinabungjaya.com/?p=34109

Trend Jeruk Impor dan Posisi Indonesia sebagai Produsen Jeruk Dunia





Trend Jeruk Impor dan Posisi Indonesia sebagai Produsen Jeruk Dunia

Zainuri Hanif dan Lizia Zamzami*)
 

Abstrak

Banjir buah impor yang kini dengan mudah diperoleh di pedagang kaki lima mengindikasikan makin tidak berdayanya buah domestik menghadapi gempuran buah dari luar negeri yang menjadikan Indonesia sebagai pasar utama. Volume jeruk impor pada Januari-April 2011 sudah mencapai 50 persen dari total impor sepanjang 2010. Jeruk Mandarin pada kuartal pertama 2011 mencapai 77.502 ton, padahal untuk keseluruhan tahun 2010 mencapai 96.489 ton (Badan Karantina Pertanian).

Sampai saat ini Indonesia termasuk negara pengimpor jeruk terbesar kedua di ASEAN setelah Malaysia, dengan volume impor khususnya untuk jenis keprok atau mandarin, selama kurun waktu 2005 – 2010 mencapai 550.809 ton atau sekitar 91.802 ton per tahun dengan nilai mencapai US $ 650.128.774 (Sumber BPS, 2011 diolah).

Menghadapi hal ini, perlu upaya untuk membendung gempuran jeruk impor :

Pertama dengan penerapan ketentuan keamanan pangan internasional melalui Codex yang mengatur batas ambang maksimun terkait residu kimia makanan termasuk buah-buahan,

Kedua dengan perbaikan dan ketersediaan jeruk dalam negeri sehingga mudah dijumpai masyarakat, dan
Ketiga dengan menggiatkan “Program Keproknisasi Nasional”  Direktorat Jendral Hortikultura, (Dirjen Hortikultura) Kementrian Pertanian yang berkesinambungan dengan perlu dijabarkan lebih rinci dan lebih konkrit sehingga mudah untuk segera ditindaklanjuti.

Jika produksi jeruk nasional tidak mampu memasok pasar dalam volume yang cukup, berkesinambungan dan berdaya saing kuat maka asa membendung banjir jeruk impor akan menjadi sekedar impian belaka. Beberapa varietas jeruk keprok komersial hasil seleksi Balitjestro maupun dari Pemerintah Daerah yang sudah dilepas oleh Kementrian Pertanian dengan kualitas buah yang tidak kalah dengan jeruk impor antara lain Keprok Batu 55 berasal; dari Batu, Jawa Timur, keprok Garut dari Jawa Barat, keprok Pulung dari Jawa Timur, keprok Tawangmangu dari Jawa Tengah, dan keprok SoE dari NTT.

*) Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika Jalan Raya Tlekung No 1 Junrejo Batu Jawa Timur;  Email: zainurihanif(at)gmail.com

Jeruk Santang dan Imlek

Jeruk Santang dan Imlek



Hari raya Imlek atau konyen akan berlangsung 23 Januari 2012. Namun tanda-tandanya sudah mulai terlihat dengan kehadiran jeruk Santang di pasar dan toko-toko buah. Butir-butiran jeruk mungil dengan rasa yang manis ini salah satu pelengkap dalam perayaan Imlek selain kue keranjang, ikan bandeng dan buah naga. Imlek adalah perayaan tentang kemakmuran dan harapan baik. Maka jeruk yang disajikan harus dengan daunnya yang melambangkan doa bahwa kemakmuran tersebut semoga tumbuh terus menerus.

Keranjang jeruk santang segar diatas saya temukan tadi pagi di Pasar Segar Graha Bintaro – Tangerang. Harganya Rp. 18.000/Kg. Datang dari tempat jauh seperti Hongkong, Taiwan dan China.

Keterkejutan saya sudah lama hilang bahwa makanan impor sudah merasuk ke pasar-pasar tradisional dan warung-warung kecil di pedesaan. Seseorang atau beberapa orang pemegang kekuasaan yang entah karena gobloknya atau karena luasnya wawasan mereka tak melihat ada bahaya pada pertanian dalam negeri dengan ikutan masuk pada kebijakan  pasar bebas dengan membuka kran impor tanpa tedeng aling-aling.

Namun sudahlah semua telah terjadi. Bukan kapasitas saya pula untuk sok tahu mengkritik AFTA, CAFTA dan semacamnya. Yang jelas basis produksi besar-besaran jeruk santang terletak di Kabupaten Guangning, sebuah provinsi di Guangdong, Cina Selatan. Kondisi tanahnya yang unik yang memungkinkan jeruk ini tumbuh subur membuat Guangning sering disebut sebagai “Negeri Jeruk Santang”.

Jeruk santang sudah muncul di Cina sejak 400 tahun yang lalu. Mungkin karena bentuknya yang unik, rasanya yang manis dan warna oranye cemerlang, hasil kebun ini masuk ke wilayah religi sebagai simbol kemakmuran . Bahkan pada  Dinasti Ming (tahun 1573-1619), jeruk Santang ditunjuk sebagai salah satu upeti rakyat kepada  kerajaan.

Jeruk santang sendiri punya banyak khasiat. Digunakan orang untuk merawat kecantikan dan meningkatkan kesehatan. Mengkonsumsi lebih sering jeruk yang kulitnya amat getas ini bisa mencegah pengerasan arteri pembuluh darah, menurunkan kolesterol, memecah lemak, mengurani akumulasi logam non-ferrous dalam tubuh serta  membantu mencegah penyakit kanker.

Salam,



 
Sumber : https://jurnaltransformasiku.wordpress.com/2011/11/15/jeruk-santang-dan-imlek/

Gubernur Jatim Kampanye Anti Jeruk Impor

 
Gubernur Jatim Kampanye Anti Jeruk Impor




Gubernur Soekarwo makin gencar kampanye anti produk asing untuk  mencegah masuknya impor produk holtikultura dan sayur mayur masuk wilayah Jatim.

Kampanye terakhir dilakukan, ketika memberikan sambutan dalam pencanangan Jatim Kompeten 2012, Selasa (20/3/2012) di JX Internasional Surabaya.

Dihadapan sekitar 3.000 undangan, mulai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar, Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Ajad Darajat, pejabat di Jatim, pengusaha, calon TKI formal, hingga mahasiswa, sambil membawa jeruk impor dan duku lokal  Soekarwo minta waktu untuk 'berkampanye'.

"Pak Menteri, saya minta waktu lima menit saja untuk bicara lain-lain," ujarnya kepada Muhaimin.

Menurut Pakde Karwo, buah impor membahayakan bagi kesehatan masyarakat Jatim. Jeruk impor yang kulitnya masih mengkilap dan dibawanya misalnya. Warna mengkilap karena kulit buah jeruk mengandung parafin.

"Ini sangat membahayakan kesehatan. Makanya ibu-ibu jangan membelinya untuk suami anda. Karena jeruk berparafin bisa menjadikan suami anda impoten. Ini serius, bener-bener serius," tegasnya.
Untuk menegaskan kampanyenya, Pakde Karwo mengaku sudah sebulan lamanya dirinya membawa jeruk impor untuk dijadikan alat kampanye menolak impor holtikultura dan sayur mayur.

"Kita menolak impor produk-produk tersebut, karena disini (Jatim) gudangnya holtikultura dan sayur mayur," jelasnya.

Orang nomor satu di Jatim tersebut lantas mengajak agar masyarakat kembali mencintai dan membeli produk lokal yang tidak ada parafin, kandungan pestisida, dan merkurinya.

"Buah duku ini misalnya. Selain produk lokal, buahnya juga enak. Selain itu berkhasiat menambah vitalitas," katanya, sambil menunjukkan buah duku di tangan kiri yang dibawanya.

Ditegaskan, dirinya mengajak boikot  produk impor yang berbahaya dan merugikan masyarakat Jatim merupakan upaya provokatif demi menyadarkan masyarakat.

Apalagi limpahan produk sayuran dan holtikultura impor yang masuk ke pelabuhan bisa menyebabkan meningkatnya pengangguran di Jatim. "Jika dipaksakan, maka pengangguran akan menumpuk," tandasnya.

 Sebelumnya, Gubernur Jatim mengeluarkan kebijakan berupa Pergub larangan impor holtikultura di Jatim yang dibalut dalam pengendalian tata niaga di Jatim. Upaya itu juga menjaga produktivitas sayuran dan holtikultura di Jatim. Sebab, Jatim juga salah satu penyumbang holtikultura untuk provinsi lainnya di Indonesia.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim, Budi Setiawan mengatakan, untuk mengantisipasi masuknya sayuran dan holtikultura impor yang masuk ke Jatim melalui Pelabuhan tanjung Perak, sudah diterjunkan tim khusus untuk mengawasi pergerakan produk impor tersebut.

"Kita juga sudah bentuk tim pengawasan, seperti yang dilalukan pada saat menolak beras impor," terangnya.

Sumber : http://jatim.tribunnews.com/2012/03/20/gubernur-jatim-kampanye-anti-jeruk-impor