...Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H.... Mohon maaf lahir dan batin...

Rabu, 14 Januari 2015

Saatnya kita bertekad untuk tidak impor jeruk lagi

Mengapa Kita Masih Mengimpor Jeruk?

jeruk
Banjir buah impor yang kini dengan mudah diperoleh di pedagang kaki lima mengindikasikan makin tidak berdayanya buah domestik menghadapi gempuran buah dari luar negeri yang menjadikan Indonesia sebagai pasar utama. Marilah kita ambil studi kasus pada buah jeruk; volume impor jeruk selama 2012 sebesar Rp 1,7 Trilyun atau 179 ribu ton (BPS 2013). Produksi jeruk Indonesia sendiri rata-rata setiap tahun sejak 2004 – 2012 sebanyak 2 juta ton. Artinya, impor jeruk sekitar 10% dari produksi nasional. Namun yang terjadi di pinggir jalan, pasar tradisional bahkan supermarket yang sering kita jumpai justru buah jeruk impor.
Di mana buah jeruk Indonesia? Apa benar angka impor sebesar itu? Lalu apa saja yang menyebabkan kita masih mengimpor jeruk?
Pertama, Ketersediaan Jeruk Lokal tidak dapat Memenuhi Kebutuhan Pasar Domestik Sepanjang Tahun.
Buah Jeruk menjadi salah satu buah yang sangat diminati oleh masyarakat Indonesia. Diantaranya yang paling populer adalah jeruk keprok (mandarin) yang dikonsumsi sebagai buah segar. Jeruk Keprok rasanya manis, segar, harga relatif murah, dan mudah didapat dimana saja, kapan saja di seluruh pelosok negeri. Ketersediannya hampir sepanjang tahun. Berikut ditampilkan perbandingan masa panen jeruk Indonesia (siam, keprok dan pamelo) dan masa panen jeruk di luar negeri. (Hanif, Zainuri dan Lizia Zamzami, 2012)
Tabel 1. Perbandingan masa panen sentra produksi jeruk Indonesia dengan negara produsen jeruk dunia lainnya.
tabekperbandinganmasapanen1

Umumnya periode panen buah jeruk di Indonesia dimulai dari bulan Februari hingga September dengan puncaknya terjadi pada bulan Mei, Juni, dan Juli seperti terlihat pada Tabel 1. Karena tujuan pemasaran utama jeruk hanya ke kota-kota besar di Jawa terutama Jakarta dan Surabaya, maka pada bulan puncak panen, harga buah jeruk di tingkat petani sering menjadi sangat murah, bahkan bisa mencapai di bawah Rp 1.000/kg. Di sisi lain, gudang penyimpanan dingin yang ada belum mampu menampung kelebihan produk dari petani (untuk buah impor tidak ada masalah), Padahal cool strorage importir sanggup menyimpan buah selama 6-12 bulan. Sedangkan pabrik olahan skala rumah tangga maupun industri belum banyak dibangun saat ini.
Pola panen tersebut memperlihatkan bahwa ketersediaan jeruk lokal tidak dapat memenuhi kebutuhan pasar domestik sepanjang tahun, sehingga membuka peluang masuknya jeruk-jeruk impor. Dari sisi waktu panen, periode awal dan akhir tahun di berbagai propinsi sentra jeruk tidak mengalami panen, namun justru di luar negeri terjadi panen raya dan stok buah melimpah.
Kedua, Kemungkinan Data Jeruk Nasional yang Tidak Akurat
Standar konsumsi buah yang ditetapkan Food and Agriculture Organization of United Nation (FAO), yakni sebesar 65,75 kilogram per kapita per tahun, sementara konsumsi buah masyarakat Indonesia masih rendah yaitu 32,67 kg per kapita per tahun (Kompas, 2010). Jika 10% saja dari jumlah standar FAO tersebut adalah buah jeruk, yaitu sebanyak 6 kg per kapita per tahun, maka dengan jumlah penduduk 237 juta jiwa akan dibutuhkan 1.422.000 ton/tahun. Jika produktivitas jeruk nasional sekitar 20 ton/ha maka dibutuhkan kebun jeruk seluas 71.110 hektar. Kebutuhan 1.422.000 ton/tahun sanggup dipenuhi 2.131.768 ton (data produksi nasional 2010). Jadi seharusnya Indonesia masih bisa melakukan ekspor sebesar 709.768 ton. Namun pada tahun 2010 lalu Indonesia masih impor jeruk 160 ribu ton dan terus meningkat di tahun 2012 menjadi 179 ribu ton. Apa yang salah di sini? Ada kemungkinan validitas data yang perlu dikritisi (di Kementerian Pertanian dan BPS) atau ada kendala teknis lainnya seperti distribusi yang terkendala infrastruktur yang membuat data terlihat tidak masuk akal. Ketidakakuratan data dapat menyebabkan kesalahan dalam pengambilan kebijakan termasuk dalam mengeluarkan RIPH (Rekomendasi Impor Produk Holtikultura).
Ketiga, Kendala Pengembangan Program Keproknisasi Nasional
“Program Keproknisasi Nasional” telah dicanangkan oleh Direktorat Jendral Hortikultura, (Dirjen Hortikultura) Kementerian Pertanian melalui Direktorat Budidaya Tanaman Buah. Beberapa langkah yang menjadi langkah operasional adalah 1) Arah pengembangan jeruk keprok melalui pemantapan areal yang sudah ada maupun pengembangan areal baru;  2) Jenis atau varietas jeruk keprok yang akan dijadikan unggulan nasional; 3) Kontinyuitas pasokan buah jeruk dengan kualitas buah prima; 4) Kesiapan pengelolaan pasca panen (sortasi, grading, pengepakan dan pengiriman); dan 5) Kesiapan Gapoktan dan Penyuluh dalam merealisasi program keproknisasi (Hardiyanto, 2012)
Program Keproknisasi Nasional ini perlu dikawal dan disempurnakan agar berhasil tercapai. Serangan hama dan penyakit yang menyebar di Karo (Sumut), Sambas (Kalbar), Lebong (Bengkulu) dan berbagai daerah lainnya menunjukkan kawalan teknologi yang ada tidak optimal. Apalagi saat pengembangan ini masih dilakukan, data produksi yang dirilis resmi oleh Kementan menunjukkan stagnan bahkan terjadi penurunan produksi pada tahun 2004 – 2011.
Jangan malu untuk berbenah. Pemerintah harus mengakui programnya selama ini berlum berhasil. Prospek pengembangan agribisnis jeruk masih menjanjikan. Banyak petani yang sudah merasakannya. Infadhil, petani jeruk Keprok Batu 55 di Dau, kabupaten Malang salah satu contohnya. Dengan lahan ¼ ha, modal 20 juta untuk 200 tanaman usia 5 tahun, setahun bisa menghasilkan Rp 80 juta. Segala masalah dari hulu sampai hilir, dari perbenihan sampai pemasaran perlu diurai dan dicarikan solusinya. Indonesia mampu untuk mengurangi bahkan mengekspor jeruk yang nyata-nyata bisa tumbuh dan berkembang baik di tanah air. Berbeda dengan apel, stroberi, kiwi dan buah subtropis lainnya yang optimal di negara empat musim.

Oleh : Zainuri Hanif, Staf Peneliti Balitjestro, Badan Litbang Kementerian Pertanian

Daftar Pustaka
Basis Data Statistik Pertanian. http://aplikasi.deptan.go.id/bdsp/newkom.asp.  Diakses 11 April 2013
BPS 2013. http://www.bps.go.id/exim-frame.php?kat=2. Diakses 11 April 2013
Federal Bureau of Statistics, Government of Pakistan, Karachi. Citrus Marketing Strategy. Pakistan Horticulture Developement & Export Board. May 2005.
Hanif, Zainuri dan Lizia Zamzami. 2012. Trend Jeruk Impor dan Posisi Indonesia sebagai Produsen Jeruk Dunia. Prosiding Workshop Rencana Aksi Rehabilitasi Agribisnis Jeruk Keprok SoE yang Berkelanjutan untuk Substitusi Impor. Halaman 107-114. Badan Litbang Pertanian, Dirjend Hortikultura dan ACIAR.
Hardiyanto, 2011. Mampukah Jeruk Keprok Nasional Kita Menggeser Jeruk Impor?http://balitjestro.litbang.deptan.go.id/id/374.html. Diakses 11 April 2013.
Sumber : http://gopanganlokal.miti.or.id/index.php/artikel-terkini/9-pangan-dan-ekonomi/27-mengapa-kita-masih-mengimpor-jeruk

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar