...Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H.... Mohon maaf lahir dan batin...

Rabu, 30 Mei 2012

BERKEBUN JERUK

BERKEBUN JERUK

BERGUMUL DENGAN TANAH

Setelah Ibunda saya meninggal dunia, kami mewarisi lahan pertanian kering di dua tempat, lahan sawah juga dua tempat.  Lahan pertanian kering tersebut atas saran kakak saya yang tertua, kami tanam jeruk, dengan perjanjian bahwa pengelola sehari-hari adalah mereka, karena letak kebun tersebut sekitar delapan puluh kilometer dari rumah kami.

 

Pekerjaannya meliputi Penyemprotan gulma dengan Roundup atau Gramaxon tiga bulan sekali, pembabatan rumput bawah dua bulan sekali, penyemprotan pestisida, fungisida, insektisidan dan akarisida sekali dalam satu minggu, pemupukan dengan KCL, NPK, Urea/Hydro, Amaphos, Rustica dll, dengan dosis satu kilogram per batang sekali dalam dua bulan, pemupukan dengan organik atau pupuk kandang/kompos sekali dalam empat bulan, pengguntingan dahan dan ranting kering dua kali setahun setiap kali sehabis panen besar.  

Dalam usia delapan tahun, rata rata produktivitas dalam satu kali panen adalah empat puluh kilogram per pohon.  Untuk kebun dengan jumlah  enam ratus pohon, dalam dua kali panen terhitung sejumlah empat puluh delapan sampai lima puluh ton.  Kendatipun di Jakarta harga jeruk Brastagi berkisar antara sepuluh sampai dua belas ribu rupiah per kilogram, di kebun harganya oleh agen atau pemborong rata-rata hanya tiga ribu rupiah per kilogram. 

Sehingga kalau diperkirakan total pendapatan kotor adalah seratus lima puluh juta rupiah per tahun.  Biaya produksi mencapai tujuh puluh lima persen atau sekitar seratus lima belas juta.  Keuntungan bersih hanya sekitar tigapuluh lima juta rupiah atau sekitar tiga juta rupiah per bulan.  Setara gaji PNS golongan III/a masa kerja dua puluh tahun. 

 

Kini yang menjadi pemikiran adalah bagaimana meningkatkan nilai tambah dan memperkuat posisi tawar terhadap pasar, karena kesan saya, selama ini petani sangat lemah posisinya dan tidak pernah dapat berbuat apa apa ketika harga jatuh.  Mengapa harga jatuh juga kerap kali tidak ada alasan yang logis. Mungkin perlu dilakukan proteksi terhadap petani dalam negeri, sebagaimana Amerika juga sangat melindungi petani-petani mereka.  

Tapi untuk mampu berkata tidak, pemerintah kita harus memiliki kekuatan yang cukup di dunia internasional.  Kalau tidak, ya suara kita tidak didengar orang.  Perdagangan Internasional itu ibarat Harimau, sangat protektif terhadap anaknya dan sangat kejam kepada musuhnya. Mungkin ada fikiran fikiran sederhana yang sangat jernih, mampu menjernihkan kabut nasib kaum tani. Silahkan berkiprah.

Sumber : http://sonyssk.wordpress.com/page/4/
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar