...Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H.... Mohon maaf lahir dan batin...

Kamis, 31 Mei 2012

Jeruk Madu Karo Ungguli Kualitas Jeruk Impor

Jeruk Impor dari China

  
Jeruk Madu dari Karo
   
Jeruk Madu Karo Ungguli Kualitas Jeruk Impor


Written by Syahnan Harahap


Tahan Serangan Hama Lalat

Selain petani secara terus-menerus tidak aman dengan fluktuasi harga; dan hama lalat buah tanaman jeruk yang mulai berkembang sekitar tahun 2000, sampai kini terus merajalela membuat petani jeruk yang luasnya berkisar 12.000 ha harus mengeluarkan dana khusus untuk pembasmian hama lalat buah sebesar Rp90,7 milyar lebih/tahun. Bahkan petani kini mulai memasang jaring di sekeliling kebun jeruk untuk mengantisipasi agar hama lalat buah tidak masuk ke kebun dan merusak buah.

Nyatanya itu tidak aman. Bahkan petani meningkatkan pemasangan jaring di atas kebun mengingat perkembangan lalat buah tetap merusak buah meskipun jaring telah dipasang di sekeliling kebun.
Atensi pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam penanganan penanggulangan hama lalat buah tersebut direspon baik dan telah dilaksanakan. Mantan Menteri Pertanian RI, DR Bungaran Saragih bersama Bupati Karo (saat itu) Sinar Perangin-angin tahun 2002 telah melakukan penanggulangan perdana di desa Dokan Kecamatan Merek.

Namun, mindset (pola pikir) masing-masing petani belum berubah, hama lalat buah semakin mengganas dan berkembang pesat sehingga semakin sulit dibasmi. Petani tidak sadar dan seakan tidak habis pikir menanggulanginya. Secara pribadi-pribadi petani jeruk mulai memasang jaring serangga dibentang mengelilingi kebun jeruk dan tingginya berkisar 4 meter sampai 6 meter untuk menghalangi hama lalat buah atau serangga tidak masuk ke kebun jeruk.

Inovasi dan gagasan petani ini memang selintas dapat dikagumi. Pemasangan jaring yang menelan biaya Rp25 juta sampai Rp40 juta/ha, ternyata bukan solusi terbaik dan permanen. Tapi seakan bagai kiasan “akal diilmui” dan bukan “ilmu diakali”. Pemasangan jaringan di sekeliling kebun jeruk selain membatasi proses penyerbukan buah oleh serangga-serangga, justru sebagai tempat perkembangbiakan lalat buah yang “terkurung” .

Selain diperlukan gerakan massal mengatasi serangan lalat buah secara serentak dan reguler (terus-menerus) bersama petani, PPL dan pihak penyuluh Dinas Pertanian-Perkebunan dan Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Peternakan dan Kehutanan (BP4K) Pemkab Karo, juga dibutuhkan bibit faritas baru jeruk yang dapat diminimalisir beragam serangan hama, khususnya lalat buah dan memiliki nilai jual dan pangsa pasar ekspor.

"Jeruk madu merupakan solusi yang terbaik dan tidak spekulatif dan tidak harus mengeluarkan cost besar, tapi hadir sebagai solusi dengan merotasi tanaman (jenis jeruk yang lain-red) untuk mencegah serangan atau pengembangbiakan hama lalat buah yang selama ini telah “menguasai” tanaman jeruk jenis jeruk siam," tegas Segel Tarigan.

Menurut Tarigan, yang mengaku pernah mewakili petani jeruk Sumatera Utara tahun 2005 silam mengikuti studi banding pembuatan pupuk organik yang diselenggarakan  Japan Internasional Cooperation Agency (JICA) di Malangke, Sulawesi Selatan, Tebas-Pontianak, Kalimantan Barat, Magetan dan Batumalang, Jawa Timur, pengembangan jeruk madu  dipadu dengan pemupukan organik, cukup berpeluang membuka pasar ekspor dan nilai jual yang cukup tinggi.

Studi banding yang sangat bermanfaat tersebut diakhiri “tour” bersama meninjau pasar dan sistem pemasaran berbagai komoditi sayur-mayur dan hortikultura ke Jepang, Thailand dan Kualalumpur. Jauh beda dengan studi banding DPRD Karo ke berbagai daerah serta luar negeri yang tidak pernah dirasakan petani manfaatnya.

“Saat itu juga digagasi MoU bidang pemasaran jeruk wilayah Sumatera Utara, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Barat untuk pemasaran ke Pulau Jawa. Namun tidak didukung dengan berbagai pertimbangan yang belum transparansi dari Pemprovsu saat itu. Termasuk pembahasan kemasan industri hulu dan hilir yang pemahamannya masih disepelekan pihak eksportir,” tuturnya.

Menyikapi hal itu, Pemkab Karo merasa perlu sebuah terobosan untuk mendorong perbaikan ekonomi petani Karo. Mengubah sistim pertanian konvensional menjadi sistim pertanian dengan keterpaduan tanaman dan ternak dianggap mampu meningkatkan produktivitas ternak/tanaman serta income petani. Itulah yang melatar belakangi, Pemkab Karo meluncurkan “Program keseriusan sinergis pola pengembangan tanaman dan ternak” bekerjasama dengan pihak perbankan belum lama ini dilaunching Bupati Karo, DR (HC) Kena Ukur Karo Jambi Surbakti.

Menurut Bupati Karo, “sektor pertanian merupakan leading sector dalam pembangunan ekonomi Kabupaten Karo. Hambatan, tantangan dan peluang di sektor pertanian sekarang ini sesegera mungkin disikapi pemerintah dengan sebuah kebijakan dan program yang implementatif,”ujarnya.

Laporan : Robert Tarigan (Wartawan andalas di Kabanjahe)



Sumber : http://harianandalas.com/index.php?/Sumatera-Utara/jeruk-madu-karo-ungguli-kualitas-jeruk-impor.html
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar