...Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H.... Mohon maaf lahir dan batin...

Kamis, 31 Mei 2012

Gubernur Jatim Kampanye Anti Jeruk Impor

 
Gubernur Jatim Kampanye Anti Jeruk Impor




Gubernur Soekarwo makin gencar kampanye anti produk asing untuk  mencegah masuknya impor produk holtikultura dan sayur mayur masuk wilayah Jatim.

Kampanye terakhir dilakukan, ketika memberikan sambutan dalam pencanangan Jatim Kompeten 2012, Selasa (20/3/2012) di JX Internasional Surabaya.

Dihadapan sekitar 3.000 undangan, mulai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar, Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Ajad Darajat, pejabat di Jatim, pengusaha, calon TKI formal, hingga mahasiswa, sambil membawa jeruk impor dan duku lokal  Soekarwo minta waktu untuk 'berkampanye'.

"Pak Menteri, saya minta waktu lima menit saja untuk bicara lain-lain," ujarnya kepada Muhaimin.

Menurut Pakde Karwo, buah impor membahayakan bagi kesehatan masyarakat Jatim. Jeruk impor yang kulitnya masih mengkilap dan dibawanya misalnya. Warna mengkilap karena kulit buah jeruk mengandung parafin.

"Ini sangat membahayakan kesehatan. Makanya ibu-ibu jangan membelinya untuk suami anda. Karena jeruk berparafin bisa menjadikan suami anda impoten. Ini serius, bener-bener serius," tegasnya.
Untuk menegaskan kampanyenya, Pakde Karwo mengaku sudah sebulan lamanya dirinya membawa jeruk impor untuk dijadikan alat kampanye menolak impor holtikultura dan sayur mayur.

"Kita menolak impor produk-produk tersebut, karena disini (Jatim) gudangnya holtikultura dan sayur mayur," jelasnya.

Orang nomor satu di Jatim tersebut lantas mengajak agar masyarakat kembali mencintai dan membeli produk lokal yang tidak ada parafin, kandungan pestisida, dan merkurinya.

"Buah duku ini misalnya. Selain produk lokal, buahnya juga enak. Selain itu berkhasiat menambah vitalitas," katanya, sambil menunjukkan buah duku di tangan kiri yang dibawanya.

Ditegaskan, dirinya mengajak boikot  produk impor yang berbahaya dan merugikan masyarakat Jatim merupakan upaya provokatif demi menyadarkan masyarakat.

Apalagi limpahan produk sayuran dan holtikultura impor yang masuk ke pelabuhan bisa menyebabkan meningkatnya pengangguran di Jatim. "Jika dipaksakan, maka pengangguran akan menumpuk," tandasnya.

 Sebelumnya, Gubernur Jatim mengeluarkan kebijakan berupa Pergub larangan impor holtikultura di Jatim yang dibalut dalam pengendalian tata niaga di Jatim. Upaya itu juga menjaga produktivitas sayuran dan holtikultura di Jatim. Sebab, Jatim juga salah satu penyumbang holtikultura untuk provinsi lainnya di Indonesia.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim, Budi Setiawan mengatakan, untuk mengantisipasi masuknya sayuran dan holtikultura impor yang masuk ke Jatim melalui Pelabuhan tanjung Perak, sudah diterjunkan tim khusus untuk mengawasi pergerakan produk impor tersebut.

"Kita juga sudah bentuk tim pengawasan, seperti yang dilalukan pada saat menolak beras impor," terangnya.

Sumber : http://jatim.tribunnews.com/2012/03/20/gubernur-jatim-kampanye-anti-jeruk-impor

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar