...Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H.... Mohon maaf lahir dan batin...

Kamis, 31 Mei 2012

Petani Terkendala Pemasaran Limau Kacang Solok Selatan

Petani Terkendala Pemasaran

Limau Kacang Solok Selatan


Kualitas ekspor: Penjualan jeruk madu Solsel hingga kini, masih dalam skala loka


Jeruk madu maupun limau kacang punya potensi jadi buah andalan dari Kabupaten Solok Selatan. Buktinya, dua jenis jeruk itu berhasil dibudidayakan oleh petani. Tapi sayang, mereka terbentur masalah pemasaran.
 
Penjualan jeruk masih dalam skala lokal. Tidak sedikit juga petani yang menggelar stand di pinggir jalan raya. Padahal, buah yang banyak mengandung vitamin C itu cukup layak menjadi produk ekspor.

Antonius, panggilan Ucok, 32, salah seorang petani sukses menghasilkan jeruk dengan kualitas bagus. Saat ini, satu persatu jeruk miliknya sudah mulai siap dipetik. Bapak satu anak itu bersama istrinya, Warnijah, 32, terpaksa membangun pondok di pinggir jalan raya kawasan Pinangawan, Pauhduo. Tepat di depan kebun jeruk mereka. Pondok itulah tempat penjualan jeruk segar, nan manis menggoda itu.

Pantauan Padang Ekspres, Minggu (22/5), pengemudi maupun pengendara yang kebetulan lewat di sana, nyaris tidak luput berhenti, singgah di pondok itu. Membeli jeruk. Komentar mereka, “Manisnya segar, airnya pun banyak.  Ndak rugi kalau awak bali limau di siko,” ujar salah seorang sopir truk yang memborong 5 kg jeruk tersebut.

Kapasitas jeruk yang dijualnya di pondok, berkisar 50-100 kg per hari. Sedangkan bila telah panen raya, diperkirakan 150 batang jeruk madu itu bakal menghasilkan sebanyak 1 ton. Hingga menjelang panen raya perdana, belum tergambar sedikitpun oleh Ucok, akan dijual kemana jeruknya nanti. Jenis jeruk yang bakal panen raya itu, yaitu jeruk madu dan limau kacang.

“Menjualnya ya di sini saja. Daripada susah-susah di bawa ke pasar harganya pun sama,” imbuh lelaki asli Brastagi itu.
 
Tawaran memang pernah datang dari seorang pedagang pengumpul yang tak dikenalnya. Orang  itu, kata Ucok, berniat ingin memborong atau menjadi pelanggan tetap. Tapi, harga yang ditawarkan jauh lebih rendah. Rp9 ribu per kg. Sedangkan harga sehari-hari yang dijual pondoknya Rp13 ribu per kg.

“Daripada harga rendah begitu, mending di sini saja bertahan. Tapi kalau ada yang mau membeli dengan harga yang sama dengan penjualan di sini, ya saya bersedia,” ujarnya.

Saat ditanya soal peran pemkab setempat terhadap petani jeruk, katanya, sejauh ini baru sebatas pembinaan dan pelatihan. Belum ada yang mengarah pada pemasaran. Masalah pemasaran dan penjualan jeruk, para petani masih berjalan sendiri-sendiri. Mengandalkan kemampuan berdagang sendiri.

“Sampai sekarang, masalah pemasarannya kita lakukan sendiri. Mudah-mudahan ada solusi, bagaimana supaya jeruk laku dijual dengan harga menguntungkan petani,” tutupnya. (*)

Sumber :  http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=4587

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar